Nasional
PB PGRI Kutuk Penembakan yang Menewaskan 2 Guru di Papua
TIMIKA, KTP.com – Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) mengutuk keras penembakan yang menewaskan dua orang guru di Kabupaten Puncak.
Seperti diberitakan sebelumnya, Oktovianus Rayo (40) guru SD Klemabeth ditembak KKB di rumahnya di Perumahan Guru SMP Negeri 1 Beoga pada Kamis (8/4/2021) pagi lalu. Berselang sehari, KKB kembali menembak guru SMP Negeri 1 Beoga Yonatan Renden (28) di dekat rumahnya di ujung Bandar Udara Perintis Beoga sekira pukul 16.45 WIT.
“Kami mengutuk keras penembakan yang menyebabkan tewasnya dua orang guru di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua dalam dua hari berturut-turut,” ujar Ketua Umum PB PGRI Prof Dr Unifah Rosyidi M.Pd dalam keterangan tertulisnya, Minggu (11/4/2021) kemarin.
(Baca Juga: Mereka Guru Terbaik, Tidak Semua Guru Mau Bertahan di Pedalaman Papua)
Dalam rangkaian kekerasan yang dilakukan KKB di Distrik Beoga, mereka juga membakar gedung sekolah SMA Negeri Beoga dan perumahan guru SMP Negeri 1 Beoga, Kamis (8/4/2021) lalu.
“PGRI juga sangat menyesalkan terjadinya pembakaran gedung sekolah dan rumah guru dalam kejadian itu,” katanya.
Kejadian yang menimpa dua guru honorer di Distrik Beoga, kata Unifah, menambah panjang daftar guru yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan KKB di daerah konflik.
Situasi ini sungguh ironi mengingat guru adalah penyuluh peradaban bangsa yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan generasi bangsa sehingga harus dilindungi dalam menjalankan tugasnya.
“PGRI mendesak negara hadir melalui Pemerintah, Pemerintah Daerah (Pemda), aparat pertahanan dan keamanan, tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk dapat memberikan perlindungan terhadap keselamatan para guru yang bertugas di pedalaman yang saat ini tersulut konflik agar mereka mendapatkan jaminan keselamatan diri, dan keluarganya,” katanya.
(Baca Juga: Negara Harus Tegas, Karena Tindakan KKB Sama Dengan Pekerjaan Teroris)
PB PGRI meminta Pemerintah dan Pemda memberikan dukungan dan perhatian kepada guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pendidik.
“Apabila guru tersebut merasakan ketidakpastian akan jaminan keselamatan dalam menjalankan tugasnya, maka mohon bantuan Pemerintah dan Pemda dapat memfasilitasi mereka agar mendapatkan tempat tugas yang aman dan terlindungi,” imbuhnya.
Unifah berharap kejadian yang menimpa Oktovianus dan Yonatan tidak terulang dan konflik yang terjadi dapat segera teratasi sehingga masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan tenang dalam satu rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Selamat jalan kawan! Semoga mendapatkan tempat yang tinggi di sisiNya. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kesabaran,” pungkasnya. (FOX)



