Nasional
Prajurit TNI Membelot ke KKB, Kenapa?
JAKARTA, KTP. com – Di medan tempur, kekuatan mental prajurit tidak bisa dianggap sama rata. Fakta, kita melihat sejumlah praktik buruk penjualan senjata dan amunisi oleh oknum anggota pada kelompok yang mestinya mereka tumpas.
Hari ini, kebetulan kita mendapati lagi fakta lain. Ada prajurit TNI yang dikabarkan membelot ke pihak kelompok kriminal bersenjata (KKB). Alasannya, tidak tahan melihat kekerasan yang dialami oleh saudara-saudaranya warga Papua. Ini bisa jadi bukan kasus yang pertama kali.
Apa yang salah? Apakah TNI kecolongan? Menurut saya ini bukan kecolongan namun bentuk kekalahan dalam perang urat saraf atau psywar. Setidaknya ronde ini dimenangkan oleh lawan. Mereka dapat poin.
Maksudnya bagaimana? Dalam hal ini dapat kita lihat bahwa operasi penumpasan terhadap pihak KKB yang selama ini dituding sebagai pelaku kekerasan dan teror yang terjadi di Papua ternyata gagal meningkatkan sentimen positif dan dukungan.
(Baca Juga: Kesaksian Junaidi, Kepsek SMP Negeri 1 Beoga yang Lolos dari Kebiadaban KKB)
Dalam kasus ini, propaganda kita bahwa KKB ini adalah ekstremis jahat pengacau keamanan yang harus dibasmi agar kedamaian hadir di Papua, dapat disimpulkan gagal membendung propaganda lawan bahwa yang mereka lakukan adalah perlawanan atas penindasan, ketidakadilan, pembodohan, dan merupakan perjuangan untuk membebaskan warga Papua.
Kenapa kalah? Jangan lupa, pembelot ini bukan orang biasa. Dia adalah prajurit yang terlibat dalam operasi. Sebelum diberangkatkan, tentunya sudah dibekali pembinaan dan persiapan yang memadai.
Keputusan membelot itu sangat mungkin merupakan hasil pergulatan batin yang luar biasa setelah rangkaian peristiwa yang dia lihat, dia alami dan dia rasakan. Artinya? TNI dalam hal ini gagal juga membentengi mental ideologi prajuritnya. Gagal meyakinkan prajuritnya bahwa kekerasan itu layak dan para pelaku kejahatan memang harus ditumpas.
Dalam konflik, peluang terjadinya perubahan sikap hingga pembelotan selalu ada. Entah karena intimidasi, iming-iming materi maupun alasan-alasan ideologis. Apalagi yang terjadi di Papua ini adalah separatisme. Kita menyebutnya kelompok kriminal bersenjata, namun mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai pejuang kemerdekaan.
Kedua belah pihak saling serang, saling balas. Tak dapat dipungkiri, di kawasan konflik yang ditandai kegagalan dialog, maka kekerasan, teror dan perang urat syaraf berbau kebencian, dan pembalasan dendam akan selalu berpeluang hadir silih berganti.
(Baca Juga: Kapolda Papua: KKB Tak Segan Serang Siapa Saja yang Dianggap Musuh)
Dampaknya? Kekerasan dapat mengakibatkan korban berjatuhan, termasuk dari warga sipil. Teror dapat mengakibatkan kepanikan, ketakutan, kekacauan yang meluas dan pengungsi dimana-mana. Perang urat saraf dapat mengakibatkan keruntuhan moril, penyerahan diri maupun pengkhianatan pada pihak-pihak yang berlawanan.
Apa yang kita sebut sebagai pengkhianatan ini kan sebenarnya keberhasilan operasi lawan. Kita juga melakukan hal yang sama. Sudah banyak anggota KKB yang kembali menyatakan setia pada NKRI.
Yang perlu diingat adalah propaganda yang paling berpeluang berhasil adalah propaganda dengan dukungan “fakta” kuat. Propaganda yang mampu menunjukkan harapan dan sangat dekat dengan realita. Siapa yang mampu, dialah yang menang.
Nah, besar kecilnya peluang terjadinya pembelotan di pihak TNI tentu saja bergantung pada kemampuan TNI menjaga moril dan mental prajurit, serta kemampuan melakukan propaganda yang kuat dan efektif untuk meraih simpati dan dukungan.
Lalu yang paling penting adalah kemampuan menghindari terjadinya praktik buruk dan kekerasan yang tidak patut (improper violence) oleh prajuritnya di medan operasi di Papua.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah contoh konkrit kemampuan dan keberhasilan dalam aspek-aspek tersebut. Namun lepasnya Timor Timur adalah contoh konkrit kegagalan. Kita harus belajar banyak dari para pendiri dan pejuang republik.
(Khairul Fahmi, Institute for Security and Strategic Studies/ISESS)



