Connect with us

Tanah Papua

Kutuk Penembakan, Tokoh Masyarakat Kamoro: Tangkap dan Adili Pelaku

Published

on

TIMIKA, KTP.com – Tokoh Masyarakat Suku Kamoro Dr Leonardus Tumuka menyesalkan insiden bentrokan antara warga dan aparat yang mengakibatkan seorang warga tertembak.

Menurutnya, saat kejadian itu mungkin warga sudah tersulut emosi sehingga mengakibatkan aparat terdesak lalu melepaskan tembakan. Namun, aparat tidak seharusnya menembak warga karena senjata diberikan oleh negara untuk melindungi warga negaranya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang warga tertembak dalam kericuhan ketika berlangsung negosiasi antara aparat dan warga yang memalang jalan di Kampung Poumako, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Minggu (7/3/2021) kemarin.

“Saya kutuk penembakan itu karena senjata yang diberikan negara tidak boleh dipakai menembak warganya sendiri,” ujar Leo yang ditemui di Timika, Senin (8/3/2021) kemarin.

(Baca Juga: Dipicu Ulah Pemuda Mabuk, Seorang Warga Tertembak di Kampung Poumako)

Ia mendesak Polri dan TNI untuk mengusut dan mengungkap pelaku penembakan serta pemicu awal keributan yang berujung sekelompok warga memalang jalan di Poumako.

Selain itu, ia mengimbau kepada pimpinan Polri dan TNI di Kabupaten Mimika untuk mengingatkan anak buahnya agar tidak gegabah menggunakan senjata api (senpi) karena bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

“Kasus ini harus diungkap, pelaku penembakan harus ditangkap dan diadili. Demikian juga untuk warga yang memicu keributan harus ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Minuman Keras (Miras)

Leo menjelaskan bentrokan antara aparat dan warga suku Kamoro kemarin merupakan insiden kali ke-4 dalam 6 tahun terakhir.

Sebelumnya, kejadian serupa terjadi pada 28 Agustus 2015 di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Koperapoka yang mengakibatkan 2 orang warga meninggal dunia akibat ditembak aparat.

(Baca Juga: Polda Papua Bentuk Tim Investigasi untuk Mengungkap Tewasnya Warga Pulau Karaka)

Pada 19 Agustus 2017, bentrok antara warga dan aparat terjadi di kawasan Pelabuhan Poumako, dan terakhir pada 3 Februari 2018 lalu ketika seorang warga meninggal dunia akibat terkena peluru nyasar di kampung Karaka, depan Pelabuhan Amamapare Portsite.

Seperti kejadian kemarin di kampung Poumako, umumnya pemicu bentrokan bermula dari ulah warga yang dipengaruhi minuman beralkohol atau minuman keras (miras).

“(Dalam kejadian kemarin) saya juga marah kepada anak-anak yang menyebabkan sampai hal ini terjadi. Karena kebiasaan menengguk miras akhirnya membuat situasi seperti ini,” ucapnya.

(Baca Juga: Kekerasan Terus Berulang, Pimpinan Gereja Katolik di Papua Ajukan Tiga Solusi)

Iapun mengkritisi pendekatan yang kerap dilakukan saat menghadapi kasus seperti ini.

“Sebenarnya kalau sudah tahu orang mabuk dan bisa lebih sabar menghadapi mereka dengan berkomunikasi yang baik maka tidak akan terjadi persoalan seperti ini. Tapi karena yang satu tidak terima dan yang satunya dipengaruhi alkohol akhirnya terjadi seperti ini,” paparnya.

Ia juga mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi kemudian melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu ketertiban masyarakat.

Seperti kejadian kemarin, karena warga memalang jalan mengakibatkan akses dari Pelabuhan Poumako lumpuh. Dampak yang paling terasa bagi warga Timika karena terjadi kelangkaan BBM di sejumlah SPBU akibat pasokan BBM terhambat.

“Akibat kejadian kemarin, bukan hanya mereka yang rugi tapi kita semua akhirnya terkena imbasnya. Kemarin, saya mau mengisi BBM di SPBU SP-2 tapi kosong karena tidak ada pasokan karena jalan dipalang,” pungkasnya. (JND)

Komentar
Continue Reading
Advertisement
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *