Connect with us

Tanah Papua

Keluarga Besar Theys Eluay Mengampuni Negara

Published

on

SENTANI, Kabartanahpapua.com – Keluarga Besar Theys Hiyo Eluay memaafkan dan mengampuni kesalahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam kasus meninggalnya Theys Eluay pada 10 November 2001 silam.

Pernyataan ini disampaikan Yanto Eluay mewakili Keluarga Besar Theys Eluay pada acara Deklarasi Damai yang diadakan di Pendopo Theys Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (10/11/2018).

Yanto mengatakan deklarasi itu hasil permenungan yang sudah lama kami rencanakan, karena kita semua diciptakan untuk membangun cinta kasih dan hidup dalam kedamaian seperti yang ditunjukkan Yesus Kristus kepada orang-orang yang telah menyalibkanNya.

“Kami percaya kematian orang tua kami ditujukan untuk menghapus jeritan dan air mata masyarakat Papua,” kata Yanto.

Berikut 5 poin pernyataan Deklarasi Damai dari Keluarga Besar Theys Hiyo Eluay;

(1) Hidup manusia ada dalam tangan Tuhan Sang Pencipta dan kita hanya menjalani kehendakNya. Walaupun sedih dan duka yang kami alami dengan kepergian orang tua kami, namun seiring waktu dan dengan pertolongan Tuhan kami belajar menjadi kuat dan menerima kenyataan tersebut.

(2) Kami percaya orang tua kami almarhum Ondofolo Theys Eluay adalah pejuang kemanusiaan, penjaga adat dan tradisi leluhur, serta memperjuangkan Papua agar makin sejahtera dalam semangat persaudaraan dan cinta kasih.

Oleh karena itu kami menolak politisasi kematian orang tua kami dan dengan tegas kami menyatakan Papua tidak boleh dipisahkan dari NKRI. Sebab almarhum adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan Papua ke dalam bingkai NKRI dalam proses PEPERA tahun 1969 dan perjuangan almarhum sesungguhnya hanya untuk kesejahteraan rakyat Papua. Sepanjang hal itu dapat diwujudkan, maka NKRI harga mati.

(3) Kami memaafkan dan mengampuni seluruh pihak atau pribadi yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung dalam kematian almarhum orang tua kami Bapak Ondofolo Theys Hiyo Eluay.

(4) Kami minta agar penculikan dan pembunuhan orang tua kami tidak lagi dikatakan sebagai kasus pelanggaran HAM dan tidak lagi digunakan oleh pihak manapun sebagai komoditi politik.

(5) Kami berjanji untuk meneruskan perjuangan almarhum demi kesejahteraan rakyat Papua bersama seluruh elemen bangsa Indonesia yang mencintai Republik ini atas dasar Pancasila dan UUD 1945.

Yanto menegaskan bahwa pernyataan tersebut adalah suara hati dan sikap dari keluarga yang disampaikan dengan kasih dan ikhlas tanpa tekanan dari pihak manapun.

“Semua bersumber dari kasih pengampunan Yesus Kristus yang mengajarkan kami saling mengampuni dan selanjutnya membuka lembaran baru untuk membangun masa depan bersama yang damai, adil, dan sejahtera. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa menolong kita semua bersama pemerintah dan seluruh komponen bangsa untuk menciptakan Papua sebagai tanah damai dan sejahtera,” kata Yanto.

Yanto Eluay didampingi Lily Wahid memberikan keterangan pers usai Deklarasi Damai di Pendopo Theys di Sentani, Kabupaten Jayapura. (ist)

Keteguhan Dalam Menjalan Keyakinannya

Adik Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lily Wahid yang hadir pada acara itu mengapresiasi deklarasi damai yang dilakukan keluarga besar Theys Eluay.

“Semoga dengan deklarasi damai ini, kita dapat menciptakan kedamaian di tanah Papua dan saya sangat yakin dengan hal ini,” kata Lily Wahid.

Menurut Gus Dur, kata Lily Wahid, almarhum Theys Eluay memiliki keinginan yang kuat untuk memperjuangkan adat dan kehidupan orang Papua. Keteguhan dalam menjalankan keyakinannya ini yang akhirnya mengorbankan nyawanya. Terinspirasi perjuangannya, Lily Wahid berencana mengusulkan Theys diangkat menjadi pahlawan nasional.

“Theys merupakan anugrah yang mungkin terlahir dalam satu abad sekali. Karena itu menjadi tugas kita untuk meneruskan perjuangan beliau untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan di Papua,” ujar Lily Wahid. (Mas)

Komentar