Nasional
Presiden Imbau Pemda Berperan Aktif Periksa dan Awasi Kesehatan Masyarakat
JAKARTA, HaIPapua.com – Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah tidak berdiam diri terhadap kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Presiden, ia telah memerintahkan jajaran terkait untuk segera turun ke lapangan menyelesaikan masalah yang telah menimbulkan korban jiwa tersebut.
“Kita sudah kirim tim berapa hari lalu atau minggu lalu. Kita sudah kirim juga makanan tambahan tapi memang medan sangat sulit,” kata Presiden Jokowi kepada para jurnalis di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/1/2018).
(Baca Juga: drg Aloysius Giay: Kasus Penyakit dan Kematian Ini Sudah Berulang Kali di Asmat)
Presiden Jokowi mengakui penanganan masalah KLB ini tidaklah mudah, mengingat banyaknya kendala yang dihadapi, mulai dari medan yang sulit, biaya yang tinggi, hingga jarak tempuh yang cukup jauh.
“Saya berikan contoh medan di sana memang sangat berat sekali. Contoh di Nduga saja, siapa yang pernah ikut saya ke Nduga. Jalan baru ke Wamena saja 4 hari, ini sama di Asmat juga sama. Perjalanan melalui rawa, di situ harus naik boat 2 sampai 3 jam dengan biaya Rp3 sampai Rp4 juta. Ini sebuah kendala yang memang sangat menghambat,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Kepala Negara meminta pemerintah daerah setempat berperan aktif memeriksa dan mengawasi kondisi kesehatan masyarakatnya sehingga penyebaran penyakit dapat dicegah dengan cepat.
“Pemda yang dekat selalu memantau, melihat, mengelilingi terus daerah-daerah yang diperkirakan terjangkit penyakit, atau gizi buruk,” ujar Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek.
Sebelumnya diberitakan puluhan anak di Kabupaten Asmat meninggal dunia akibat wabah campak dan gizi buruk. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Aloysius Giay, KLB yang terjadi di Asmat bukan kali pertama namun sudah berulang, karenanya Dinas Kesehatan setempat harus lebih aktif lagi dan belajar dari kejadian sebelumnya. (Ong)


















