Tanah Papua
Dinas Pendidikan Dasar Mimika Kutuk Pelaku Penganiaya Guru di Arwanop
TIMIKA, Kabartanahpapua.com – Kabid Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Stanislaus Laiyan mengutuk kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) yang melakukan tindakan keji menganiaya 8 guru SD Inpres Arwanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Jumat (13/4/2018) lalu.
Kehadiran para guru kontrak dan PPL (Program Pengalaman Latihan) di Kampung Arwanop, kata Stanislaus, sebatas karena tuntutan menghadirkan penyelenggaran pendidikan di daerah terisolir yang sebelumnya tidak ada layanan.
“Ini yang kami sesalkan karena kehadiran guru di Arwanop tidak ada kepentingan apa-apa, tapi tuntutan untuk menghadirkan penyelenggaraan pendidikan yang tadinya tidak ada layanan, atau tadinya ada sekolah tapi tidak ada guru,” kata Stanislaus Laiyan di Hanggar Penerbad Bandar Udara Mozes Kilangin Timika, Kabupaten Mimika, Kamis (19/4/2018).
(Baca Juga: TNI Evakuasi Guru Kontrak Korban Kebiadaban KKSB di Arwanop)
Menurut Stanislaus, program pengiriman guru kontrak dan PPL ke pedalaman dimulai Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Kabupaten Mimika sejak 2016 lalu hingga sekarang. Berkat program ini, ratusan anak usia sekolah di pedalaman bisa mengikuti pembelajaran.
Namun, dengan kejadian ini kami khawatir pelayanan pendidikan di Papua dan khususnya Kabupaten Mimika akan kembali terhambat. “Kami terpukul dengan peristiwa ini, menyesal luar biasa karena mereka hadir di sana hanya untuk memanusiakan manusia,” kata Stanislaus.
Ditodong senjata, dianiaya, dan dijarah
Rano Samsul, salah seorang guru SD Inpres Arwanop yang mengalami penganiayaan dari KKSB mengaku tidak menyangka akan didatangi kelompok kriminal bersenjata itu. Penyerangan itu, kata Rano, terjadi Jumat (13/4/2018) lalu sekitar pukul 15.00 WIT. Sekitar 20-an orang membawa senjata api serta parang, sangkur dan pisau datang ke rumah tinggal guru lalu menodong dan menganiaya 8 orang guru.
“Kejadian itu berlangsung sangat cepat, mereka menyandera kami selama 45 menit. Kami tidak tahu maksud kedatangan mereka, tapi kami ditodong pakai senjata api,” ujar Rano.

Rano Samsul, guru SD Inpres Arwanop tak kuasa menahan isak menceriterakan kejadian yang menimpa mereka. (ong/Kabartanahpapua)
“Selanjutnya mereka memisahkan guru laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki ditodong senjata di kepala dan yang perempuan dipukul, ditendang…,” ucap Rano sambil terisak.
“Berselang 45 meniti kemudian, mereka pergi membawa hasil rampokan barang kami berupa 10 buah telepon genggam (hp), 4 buah labtop, sebagian bahan makanan dan pakaian kami diambil semua,” kata Rano yang berstatus PNS dan sudah 2 tahun menjadi guru di SD Inpres Arwanop.
Rano menegaskan, kejadian itu tidak menyurutkan niat mereka yang telah memilih profesi guru dan bersedia ditempatkan di daerah pedalaman. Namun, ia mengaku sedih karena terpaksa harus meninggalkan anak murid mereka yang sebentar lagi mengikuti ujian.
“Sebenarnya kejadian ini tidak menyurutkan kami punya semangat. Justru kami sedih karena kami kembali ke kota ini, sementara anak-anak yang kami tinggalkan di sana (Arwanop) sebentar lagi akan ujian. Kami pikir dua minggu ke depan, selesai ujian kami akan turun ke Timika,” ucap Rano sambil mengusap air matanya.
(Baca Juga: Bupati Mimika Minta TNI Kejar Pelaku Pemerkosa Guru Bantu)
Kepala SD Inpres Arwanop Philipus Lefteuw menjelaskan bahwa SD Inpres Arwanop memiliki siswa sebanyak 200 anak dan terbanyak siswa kelas 1 berjumlah 70 orang yang dibagi dalam dua kelas. Dari jumlah itu, ada 130-an anak yang aktif mengikuti proses pembelajaran di sekolah, sementara siswa kelas 6 yang akan mengikuti ujian akhir berjumlah 9 orang.
“Kami menargetkan setengah dari siswa kelas 1 sudah bisa membaca dan menulis, sementara untuk siswa kelas 2, hingga kelas 6 sudah lancar membaca, menulis dan berhitung,” kata Philipus yang sudah 19 tahun mengabdi sebagai guru di Arwanop. (Ong)
















