Danbrigif 20: Amunisi KKSB Menipis Pasca Kontak Tembak di Banti 2 dan Opitawak

Tanah Papua38 Dilihat

TIMIKA, Kabartanahpapua.com – Komandan Satgas Terpadu TNI-Polri Kolonel Inf Frits Pelamonia mensinyalir pelaku penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap guru di SD Inpres Arwanop adalah kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) yang melarikan diri dari kampung Banti, Banti 2 dan Opitawak.

Saat hendak merebut kampung Arwanop dan sekitarnya, kata Frits, pasukan TNI sempat berhadapan dengan KKSB yang bersembunyi di dua lokasi berbeda menjaga Bandar Udara Aingogin. Satu kelompok yang berkekuatan 5 atau 6 orang berjaga di ujung utara landasan pacu, sementara kelompok lainnya berkekuatan 10 orang berada di arah kampung Jagamin.

“Saat melihat pasukan TNI melakukan pemeriksaan di kampung dan sudah menguasai daerah perbukitan, mereka (KKSB) lalu melarikan diri ke arah kampung Jagamin. Satu tim TNI sudah melakukan pengejaran kearah kampung Jagamin,” kata Frits di Hanggar Penerbad Bandar Udara Mozes Kilangin Timika, Kabupaten Mimika, Kamis (19/4/2018).

(Baca Juga: TNI Evakuasi Guru Kontrak Korban Kebiadaban KKSB di Arwanop)

Dari hasil pantauan udara terhadap anggota KKSB yang melarikan diri ke kampung Jagamin terlihat sejumlah pentolan kelompok ini, seperti Joni Botak dan Nus Waker. Untuk mengantisipasi kejadian di SD Inpres Arwanop terulang, kata Frits, pihaknya langsung berkoordinasi dengan kepala suku untuk melakukan evakuasi terhadap para guru di SD Inpres Jagamin.

“Mereka itu adalah pelarian dari kampung Banti, Banti 2 dan Opitawak. Kekuatan mereka cukup besar yang diperkirakan gabungan KKSB dari Banti, Jila, Ilaga dan beberapa tempat di wilayah Pegunungan Tengah Papua,” kata Frits.

Amunisi Menipis

Frits menduga amunisi dari KKSB mulai menipis pasca kontak tembak di kampung Banti 2 dan Opitawak beberapa waktu lalu. Pasalnya, saat pasukan TNI masuk ke lembah Arwanop mereka tidak melakukan penyerangan dan memilih melarikan diri ke kampung Jagamin.

“Kekuatan mereka cukup besar, memiliki puluhan pucuk senjata api. Mereka juga punya amunisi yang cukup banyak, terbukti saat kontak tembak di Banti dan Opitawak, cukup gencar membalas tembakan. Tapi, pasca kontak tembak kemarin diperkirakan amunisi mereka sudah menipis,” kata Frits yang saat ini menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri 20 Ima Jaya Keramo.

(Baca Juga: 50 Personel TNI Rebut 3 Kampung yang Dikuasai TPN-OPM di Tembagapura)

Dari puluhan senjata api yang dimiliki KKSB, kata Frits, yang berbahaya yakni 2 pucuk senjata jenis Stayr AUG. Selain itu, kelompok kriminal ini juga memilik senjata lain seperti Minimi, dan sejumlah persenjataan organik yang mereka rampas dari TNI-Polri serta sejumlah senjata rakitan.

“Senjata jenis Stayr AUG ini yang cukup berbahaya karena senjata otomat ini memiliki akurasi yang cukup tinggi dan amunisi yang tidak terlalu sulit. Cukup beruntung karena saat ini, amunisi mereka diperkirakan sudah menipis,” kata Frits didampingi Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi. (Ong)