Connect with us

Tanah Papua

Anak Asmat Rentan Penyakit Akibat Gizi Buruk dan Tidak Mendapat Imunisasi

Published

on

AGATS, HaIPapua.com – Ibu Yohana warga Kampung Syuru, Kecamatan Agats, menunggui 2 orang anaknya Barnabas (3) dan Mario (2) di Aula yang dirubah menjadi ruang perawatan gizi buruk di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats sejak beberapa hari terakhir. Ia mengaku mengantar anaknya karena terkena cacar air, serampa dan menderita diare sejak seminggu terakhir. Karena pelayanan di Puskesmas tidak setiap saat, Ia pun mengantar anaknya ke RSUD Agats.

“Saya tidak tahu mereka sakit apa, tapi saya antar ke rumah sakit karena mereka kena cacar air, serampa dan buang-buang air mencret,” kata Yohana saat ditemui di RSUD Agats, Rabu (17/1/2018).

(Baca Juga: Bupati Asmat: KLB Gizi Buruk, Akumulasi Kelalaian Pemerintah dan Masyarakat)

Hal serupa yang dialami Ibu Kristiani warga Kampung Syuru yang harus mendampingi anaknya Talita (2) yang dirawat karena gizi buruk dan menderita malaria tropika. Ia mengaku sudah 4 hari di RSUD dan kondisi anaknya sudah mulai membaik. “Katanya sakit malaria dan ada infeksi di dalam, tapi saya tidak tahu sakit apa,” kata Kristiani di RSUD Agats.

Salah seorang dokter RSUD Agats, dr Ludwina Elisabeth mengatakan saat ini ada 9 pasien anak penderita gizi buruk yang sedang menjalani perawatan. Dalam penanganan penderita gizi buruk, kata Ludwina, diawali dengan melakukan stabilisasi penderita lalu melakukan rehabilitasi.

“Penanganan pasien gizi buruk dengan mulai melakukan proses stabilisasi penderita gizi buruk, kemudian ada beberapa pasien juga sudah memasuki fase transisi dan rehabilitasi,” kata Ludwina.

Saat ini, kata Ludwina, ada 13 anak penderita campak dan 9 anak penderita gizi buruk yang tengah mendapat perawatan di RSUD Agats. Ia mengaku penderita gizi buruk sering ditangani RSUD dan jumlahnya terus meningkat sejak akhir Agustus 2017 lalu.

“Ada sekitar 50 kasus gizi buruk per bulan yang ditangani RSUD Agats. Dan jumlah ini terus bertambah sejak terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) pada September lalu,” kata Ludwina.

Ludwina menduga akibat gizi buruk ini mengakibatkan kesehatan anak menurun dan diikuti penyakit lainnya. “Karena kesehatan menurun ditemukan banyak infeksi seperti ditemukan radang paru-paru dijumpai komplikasinya. dan ada penyakit penyertaan lainnya seperti malaria, anemia dan belakangan dicurigai suspek TBC,” katanya.

(Baca Juga: Presiden Imbau Pemda Berperan Aktif Periksa dan Awasi Kesehatan Masyarakat)

Hal senada diungkapkan dr Dana dan dr Rahmanto dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta yang diperbantukan Satgas TNI di RSUD Agats. Menurut dr Dana, sebagian besar pasien anak belum mendapat imunisasi, karenanya yang pertama diatasi gizi buruk ini.

“Kalau tidak diatasi maka akan banyak infeksi lainnya yang mengikuti seperti campak, TBC dan lainnya. Makanya kami sedang mengumpulkan data dan melakukan evaluasi bersama bagaimana langkah terbaik mengatasi masalah ini,” kata dr Dana.

Ditambahkan dr Rahmanto, penanganan pasien gizi buruk harus dilakukan komprehensif karena kebanyakan anak juga mengalami infeksi seperti radang paru-paru, pneumonia, anemia dan TBC. Menurutnya penanganan kasus gizi buruk ini tidak bisa hanya dilakukan saat ini saja karena terkait dengan budaya dan pola hidup masyarakat.

“Untuk penanganannya tergantung dari Pemerintah Daerah, kita hanya mencoba terapi dengan fasilitas yang ada, kemudian sumbang saran langkah seperti apa yang bisa dilakukan,” katanya. (Ong)

Komentar