Connect with us

Tanah Papua

Ambulans dan Transportasi Umum Jadi Kerinduan Masyarakat Kampung Pigapu

Published

on

TIMIKA,KTP.com– Ambulans dan Transportasi Umum (Bus) menjadi kerinduan bagi masyarakat Kampung Pigapu saat ini. Pasalnya Ambulans dan Transportasi Umum tidak ada yang melayani masyarakat disana yang membuat masyarakat kesulitan ketika membutuhkannya.

Kepala Kampung Pigapu, Sebastian Mapareyau menyebut warga Pigapu, Distrik Iwaka ketika dalam kondisi sakit kritis dan ingin periksakan diri ke fasilitas kesehatan yang memadai, truk menjadi jawaban bagi warga disana, itu karena tidak ada ambulans yang tersedia.

Kata Kepala Kampung, disana memang ada puskemas pembantu (Pustu) dengan tenaga kesehatan (Nakes) beberapa yang ditempatkan disana, tetapi tidak ada ambulans.

“Jadi kalau warga yang sakit dan kritis yang mengharuskan periksa ke fasilitas kesehatan yang memadai seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Rumah Sakit Caritaz hanya bergantung pada truk pasir, truk kontainer dan mobil tangki air untuk bisa menumpang,” tutur Kepala Kampung.

Dia menjelaskan, pustu dengan tenaga kesehatan yang ada hanya bisa melayani pemeriksaan kesehatan yang ringan, sedangkan warga yang sakit kategori berat tidak bisa ditangani oleh nakes dan harus dilarikan ke RSUD atau RS Caritaz.

Jarak Kampung Pigapu ke dua rumah sakit ini terpaut jauh dan warga yang tidak punya kendaraan pribadi hanya berharap pada truk, truk kontainer dan truk tangki air yang melintas untuk menumpang.

“Kalau dalam kondisi kritis dan tidak ada truk yang lewat berarti harus tahan diri sampai besok,” ungkap Kepala Kampung.

Selain ambulans, angkutan umum juga menjadi keluhan warga Pigapu.

“Dulu ada bus yang disediakan untuk melayani warga Pigapu, tetapi sekarang sudah tidak lagi,” tambahnya.

Tidak adanya transparansi umum, sambung Kepala Kampung, truk pasir, truk kontainer dan truk tangki air menjadi pilihan bagi warga ketika akan bepergian.

Hal yang sama juga disampaikan Veronika Neakoau salah satu warga Kampung Pigapu.

Veronika menyebut, dulunya ada transportasi umum (bus) yang melayani masyarakat disana, sekarang sudah tidak ada lagi.

Veronika mengungkapkan dirinya yang kehidupannya bergantung pada jualan hasil laut dan hasil kebun di pasar terkadang harus menelan rasa pahit karena hasil laut dan kebun yang didapat tidak terjual akibat tidak ada transportasi umum yang melayani disana.

“Ke pasar kami hanya bergantung pada truk kontainer dan truk tangki air yang lewat sehingga kami bisa menumpang, itupun kalau ada yang beri tumpangan, jika tidak maka harus pasrah dengan keadaan,” ungkap Veronika.

Tidak sampai disitu, masyarakat yang menjual hasil laut dan kebun di pasar, juga harus berada di kota lebih dari dari dua hari untuk menghabiskan hasil jualannya.

“Kami harus menginap di keluarga yang ada di kota, apalagi hasil jualan belum laku. Mau pulang pergi kami terkendala transportasi sehingga lebih baik tinggal dulu di keluarga sampai hasil jualan terjual habis,” ujarnya.

Hal senadah juga disampaikan Elisabeth Kaukayah. Kata Elis kesulitan itu tidak hanya dirasakan oleh orang tua tetapi juga dirasakan para pelajar tingkat SMP dan SMA yang jaraknya jauh dari kampung.

“Selama ini truk tangki air dan truk kontainer yang menjadi pilihan masyarakat disini,” kata Elisabeth.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika dapat memberikan perhatian kepada masyarakat kampung Pigapu sehingga masyarakat disana juga yang merasakan pelayanan yang sama seperti masyarakat yang ada di kota.

“Tolong pemerintah juga perhatikan kami. Kami disini mayoritas masyarakat merupakan orang asli Kamoro dan seharusnya pemerintah memberikan perhatian juga kepada kami,” ujarnya.(MET)

Komentar