Tanah Papua
Kronologis Kerusuhan di Distrik Fayit Versi Keuskupan Agats
JAYAPURA, Kabartanahpapua.com – Gereja Katolik Keuskupan Agats prihatin dan mengecam kerusuhan yang berujung 4 orang tewas dan 1 orang luka berat di Kampung Basim, Distrik (kecamatan) Fayit, Kabupaten Asmat, Senin (27/5/2019).
Berikut kronologis kerusuhan yang dikumpulkan Keuskupan Agats melalui wawancara berbagai sumber yang dilampirkan dalam pernyataan sikap Keuskupan Agats pada 1 Juni 2019.
Kejadian ini berawal dari percakapan via telepon antara Amatus Base dengan John Tatai pada Minggu (26/5/2019) sekitar pukul 18.00 WIT. John Tatai adalah calon anggota legislatif (caleg) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) asal Kampung Akan Tapak, Distrik Aswi.
Dalam pembicaraan tersebut, John Tatai mengabarkan bahwa ia gagal lolos sebagai anggota DPRD Kabupaten Asmat. Setelah pembicaraan itu, Amatus lalu menyampaikan kabar tersebut kepada warga Kampung Akan Tapak.
(Baca Juga: Keuskupan Agats Kecam Penembakan Warga Saat Kerusuhan di Distrik Fayit)
Sejumlah warga di antaranya Kepala Kampung Akan Tapak dan Kampung Baus lalu berangkat ke Distrik Fayit untuk menelepon John Tatai memastikan informasi yang disampaikan Amatus. Setelah mendengarkan sendiri penjelasan dari John Tatai, sejumlah warga asal Distrik Aswi itu lalu berencana berangkat ke Agats untuk menyampaikan aspirasi.
“Kepala Kampung Akan Tapak dan Baus serta sejumlah warga lainnya kecewa karena mereka menaruh harapan besar pada John Tatai. Mereka berharap jika John Tatai jadi anggota DPRD Kabupaten Asmat akan memperhatikan hidup mereka,” tulis pernyataan sikap Keuskupan Agats.
Keesokan harinya, Senin (27/5/2019) sekitar pukul 08.00 WIT, ratusan warga dari Kampung Akan Tapak, Baus, dan Bagair berangkat ke Agats menggunakan perahu fiber. “Mereka hendak menagih janji Bupati Asmat Elisa Kambu untuk mengusahakan dan memperjuangkan John Tatai duduk sebagai anggota DPRD Asmat periode 2019-2024,” tulisnya.

Kondisi rumah Ibu Yani di Kampung Basim, Distrik Fayit pasca penyerangan warga 3 kampung dari Distrik Aswi. (Penerangan Kodam XVII Cenderawasih)
Dalam perjalanan menuju Agats, sekitar pukul 10.00 WIT, massa singgah di Kampung Basim, Distrik Fayit. Di situ, massa menyerang rumah Ibu Yani, caleg PAN yang lolos menjadi anggota DPRD Asmat. Mereka juga berencana mengajak warga Distrik Fayit untuk berunjuk rasa di Agats.
“Ratusan massa dari tiga kampung ini melampiaskan kekecewaannya karena tidak ada caleg asal Distrik Aswi dan Fayit yang lolos menjadi anggota DPRD Asmat,” tulisnya.
(Baca Juga: Ini Temuan Tim Investigasi TNI-Polri dan Komnas HAM Papua di Distrik Fayit)
Saat terjadi aksi perusakan di Distrik Fayit, ada 3 anggota TNI dan 2 anggota Polsek Fayit yang sedang bertugas. Kedua anggota Polsek, Dimas Bayu Aditama dan Inengah Sudiana sempat berusaha menahan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan berlebihan. Keduanya juga berusaha menahan massa dari Kampung Ais yang hendak menuju lokasi perusakan.
Sementara dua anggota TNI yang sudah lama bertugas di Fayit, juga berusaha menenangkan massa. Tidak lama berselang terdengar bunyi tembakan yang dilepaskan oleh anggota TNI yang tidak berseragam. Ia diketahui baru bertugas di Distrik Fayit untuk mengawasi pembangunan Koramil.
“Saat kejadian itu anggota Polsek, Dimas Bayu juga memegang senjata tapi tidak melakukan tindakan apa-apa. Anggota TNI yang tidak berseragam justru melepaskan tembakan peringatan, padahal rekannya sudah memperingatkan untuk tidak melakukan tindakan berlebihan,” tulisnya.
Bunyi letusan senjata mengagetkan massa yang saat melakukan perusakan rumah milik Ibu Yani. Sejumlah pemuda yang membawa senjata tajam kemudian mendekati anggota TNI yang tidak berseragam. “Karena oknum tentara menduga akan diserang, ia lalu mengarahkan tembakan ke 5 pemuda yang berusaha mendekatinya dan selanjutnya melarikan diri,” tulisnya.
Tiga orang meninggal di tempat, sementara 2 lainnya mengalami luka parah. Massa kemudian membawa ke-5 korban penembakan itu ke Puskesmas Distrik Fayit.
“Satu orang akhirnya meninggal dunia di Puskesmas, sementara seorang lagi akhirnya sempat dilarikan ke RSUD Agats. Belakangan pemuda yang selanjutnya dirujuk ke Jayapura harus kehilangan sebelah tangannya karena diamputasi,” tulisnya.
(Baca Juga: Besuk Korban Penembakan di Distrik Fayit, Pangdam Cenderawasih Minta Maaf)
Berdasarkan data Puskesmas Fayit, 4 orang yang meninggal dunia yakni Saverius Sai (39) warga Kampung Baus, Frederikus Inepi (19) warga Kampung Bagair, serta Nikolaus Tupa (28) dan Mathias Amunep (19) warga Kampung Akan Tapak. Sementara korban luka, yakni Jhon Wiamsa Tatai (20).
“Pada Selasa (28/5/2019) pagi, ke-4 jenazah dibawa pulang ke kampung masing-masing untuk dimakamkan,” tulisnya.

Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua Frits Ramandey sedang memegang satu anak panah yang ditemukan di dalam kios warga di Distrik Fayit. (Penerangan Kodam XVII Cenderawasih)
Sementara itu pada Selasa (28/5/2019) malam, dilakukan pertemuan di Mapolsek Fayit yang dihadiri 3 kepala kampung dari Distrik Aswi bersama Bupati Asmat, Dandim 1707 Merauke, Kapolres Asmat beserta jajaran.
Pada pertemuan itu, Dandim berjanji akan memproses hukum oknum TNI yang melakukan penembakan dan akan memecat dari satuan. Sementara itu Bupati dan Kapolres Asmat juga mendukung proses hukum terhadap oknum TNI.
“Menurut yang kami dengar, Bupati telah memberikan uang duka kepada keluarga korban pada pertemuan itu,” tulis pernyataan sikap Keuskupan Agats yang ditandatangani Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito OFM. (Ong)
















