Tanah Papua
Hoaks: Jembatan Mencari Kebenaran
Kabartanahpapua.com – Hampir seluruh negara di dunia saat ini dihadapkan dengan maraknya berita palsu atau hoaks, yang beredar di berbagai media. Di Indonesia, frekuensi penyebaran hoaks semakin meningkat seiring dengan bertambahnya eskalasi politik nasional dengan diselenggarakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia.
Media sosial dan jejaring sosial menjadi instrumen yang paling efektif untuk menyebarkan berita hoaks untuk kepentingan politik kelompok-kelompok tertentu ataupun untuk menjatuhkan integritas seorang individu.
Menariknya di negara kita, isu politik yang diangkat dalam berita hoaks sering kali berkaitan dengan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA). Tidak bisa dipungkiri, kebinekaan bangsa Indonesia di satu sisi merupakan ‘kekuatan’ bangsa kita, namun di sisi lain kebinekaan adalah ‘titik terlemah’ yang sangat mudah dieksploitasi untuk menimbulkan kegaduhan sosial.
Sedangkan hoaks untuk menyerang individu biasanya berusaha mengeksploitasi kehidupan pribadi atau keluarga dan masa lalu seseorang. Di sisi lain, ada orang-orang yang menjadikan hoaks sebagai media untuk untuk pencitraan.
Berdasarkan Kamus Inggris Merriam-Webster, definisi hoaks (hoax) berarti (1) an act intended to trick or dupe (suatu tindakan yang dimaksudkan untuk mengelabui atau menipu); (2) something accepted or established by fraud or fabrication (sesuatu yang diterima atau ditetapkan dengan cara penipuan atau fabrikasi).
Sedangkan Wikipedia menulis, hoaks adalah pemberitaan palsu, yaitu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.
Bila kita cermati, terdapat 2 kata kunci (keywords) dalam pengertian tersebut yaitu palsu dan menipu. Secara logika, seseorang yang menyebarkan kepalsuan tentunya mempunyai motif yang tidak baik. Motifnya, jelas untuk menipu demi kepentingan tertentu.
Siapa yang ingin ditipu? Jawabannya mudah, siapa saja yang ‘ingin’ tertipu. Pertanyaannya, mana ada orang yang ingin tertipu?
Sasaran Hoaks
Di sinilah cerdiknya pembuat berita hoaks. Pada dasarnya, manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah terlepas dari lingkungan sekitarnya. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mengikuti pola pikir dan budaya lingkungan. Seperti di mana dia dibesarkan, di mana dia dididik, dan di mana dia bekerja.
Sebagai contoh, ketika seseorang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat fanatik terhadap suatu agama, maka ia cenderung menilai suatu masalah dengan ‘kacamata’ agamanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan budaya kasih sayang, maka ia akan sulit menerima adanya kekerasan, dan seseorang yang bekerja dalam lingkungan yang penuh kedisiplinan maka akan sulit menerima ketidakteraturan.
Si pembuat berita hoaks sangat mengerti kondisi ini, oleh karena itu mereka menawarkan berita dan informasi sesuai ‘keinginan’ pembaca. Dan bagi pembaca, mereka sangat senang menerima informasi seperti yang mereka ‘inginkan’. Entah itu informasi yang terkonfirmasi ataupun palsu.
Pembuat hoaks juga menyadari, informasi yang ditulisnya adalah untuk konsumsi publik. Publik yang terdiri dari berbagai strata atau tingkat pendidikan tersebut bisa diklasifikasikan menjadi 2 tipe, yaitu publik yang ‘tidak ingin ditipu’ dan ada publik yang ‘ingin ditipu’ atas informasi tersebut.
Kelompok publik yang ‘tidak ingin ditipu’ biasanya adalah masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang baik, kondisi emosional yang terjaga, rasional, dan memiliki wawasan terbuka (open minded).
Umumnya, mereka akan terlebih dahulu menelaah lebih dalam dengan mencari data dan fakta yang sesungguhnya ataupun melalui sumber-sumber info lain yang lebih kredibel. Kemudian mereka membedahnya lebih tajam dengan berbagai perspektif keilmuan. Maka bagi kelompok ini, hoaks itu sama dengan sampah.
Sedangkan, publik yang ‘ingin ditipu’ didominasi oleh kelompok masyarakat yang mempunyai tingkat pendidikan menengah ke bawah, lebih emosional, fanatis, bahkan terkadang oportunis. Bagi mereka ini, berita hoaks dianggap sebagai sesuatu yang valid karena sesuai ‘keinginan’ mereka. Jadi jelas, hoaks ditujukan kepada siapapun yang mudah percaya dan ‘ingin’ tertipu.
Melarang orang untuk membaca atau mendengar informasi hoaks tentulah tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah menjadikan hoaks sebagai “jembatan” mencari kebenaran. Mulai sekarang, marilah kita kenali ciri-ciri informasi hoaks.
“Hoaks itu konten yang biasanya provokatif, judulnya sangat menarik, terus ketiga bombastis, keempat biasanya mengejutkan,” kata Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Suwarjono.
Ciri lain informasi hoaks adalah bersifat ‘menyerang’ pihak tertentu. Serangan tersebut bisa dalam bentuk bahasa yang kasar, sindiran, ataupun kata-kata yang halus namun tendensius. Hoaks sering pula ‘memperkuat’ tipuannya dengan menampilkan link ke sumber-sumber informasi lain yang berupa tulisan-tulisan dari beberapa orang yang sangat kental dengan subjektifitasnya.
Menyikapi Hoaks
Bagaimana kita menyikapi informasi hoaks tersebut? Setelah menerima informasi, janganlah kita telan informasi tersebut mentah-mentah, sebaiknya jadikanlah informasi hoaks itu sebagai ‘informasi awal’ bagi kita untuk mencari kebenaran atau fakta sesungguhnya.
Semakin banyak kita menerima info hoaks, maka hendaknya kita semakin banyak pula meluangkan waktu untuk mencari kebenaran info tersebut melalui sumber-sumber terpercaya. Carilah informasi pembanding melalui sumber-sumber resmi yang berkompeten dan media-media yang mempunyai kredibilitas yang telah diakui.
Apabila informasi tersebut terkait dengan institusi atau individu tertentu, maka kita sebagai penerima informasi hendaknya berusaha mencari informasi yang terkonfirmasi (confirmed information) melalui website resmi insitusi tersebut atau menunggu pernyataan resmi dari pejabat atau individu yang terkait langsung terhadap isu tersebut.
Tentunya, perlu jiwa besar apabila menemukan kenyataan bahwa data dan fakta sebenarnya jauh berbeda dengan apa yang disampaikan pada berita hoaks dan tidak sesuai ‘keinginan’ kita.
“We cannot learn without pain.” (Aristoteles)
Cara yang paling efektif untuk menangkal berita hoaks adalah dengan memperluas wawasan kita sebanyak-banyaknya. Keluarlah dari lingkungan kita. Jangan menjadi “katak dalam tempurung”, di mana kita merasa mumpuni di suatu bidang tanpa mau menggali pengetahuan di bidang lain. Jelajahilah lingkungan lain agar mendapat informasi dari berbagai perspektif.
Contohnya, bila kita seorang birokrat hendaknya kita mulai memperluas wawasan dengan cara membaca, menonton, mendengar, melihat informasi dan fakta-fakta lain yang terjadi di luar lingkungan birokrasi yang berkaitan dengan isu ekonomi, sosial, kebudayaan, keamanan-pertahanan, pendidikan dan lain-lain.
Dengan wawasan yang luas itulah maka kita akan memiliki kemampuan menilai suatu informasi secara komprehensif dan multi dimensional sehingga pada akhirnya bisa menentukan sendiri, apakah berita tersebut benar atau hanya sekedar hoaks.
Kacamata Pancasila
Di Indonesia, sensor yang paling ideal dalam menangkal informasi hoaks adalah ‘kacamata’ Pancasila Seutuhnya. Yang dimaksud di sini adalah sebagai bangsa Indonesia, selain dengan memperkaya wawasan, kita hendaknya menanggapi suatu informasi dengan ‘kacamata’ keseluruhan sila dari Pancasila beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Kita tidak bisa melihat suatu informasi hanya dengan ‘kacamata’ satu atau dua sila Pancasila saja.
Harus kita akui, masih ada sebagian dari masyarakat kita yang sudah merasa menjadi seorang pembela Pancasila ketika ia mengamalkan salah satu sila saja, tentunya keyakinan itu dikarenakan mereka hanya melihat segala sesuatu dengan ‘kacamata’ sila tersebut.
Mereka tidak menyadari bahwa Pancasila adalah satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, marilah kita kembali memahami Pancasila beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sadari bahwa nilai-nilai Pancasila sesungguhnya adalah nilai-nilai luhur yang telah ada dan berkembang sejak dahulu dalam suatu entitas masyarakat yang bineka.
Seandainya bangsa Indonesia hanya berasal dari satu suku, satu agama, satu ras, dan satu golongan, maka Pancasila tidak akan pernah ada. Pancasila adalah suatu masterpiece bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Jadi, selain memiliki wawasan yang luas, ‘kacamata’ Pancasila yang seutuhnya akan membantu kita membedakan apakah suatu informasi itu adalah hoaks atau tidak. Bila kita masih ragu apakah suatu berita itu, hoaks atau bukan, maka pilihan yang paling bijak adalah tidak menyebarkan (share) berita tersebut lebih jauh.
Kendalikan diri kita, luangkan waktu kita untuk menggali data dan fakta sesungguhnya. Pada prinsipnya, lebih baik kita bertindak sebagai silent reader daripada kita menjadi bagian dari penyebar kepalsuan.
“The most dangerous liars are those who think they are telling the truth” (Popular Quote)
Apabila kita telah terlanjur menyebarkan informasi hoaks, maka layaknya seorang ksatria, kita harus mengklarifikasi info tersebut dengan cara membagikan informasi dari pihak yang lebih kompeten dan meminta rekan-rekan kita untuk mengabaikan informasi hoaks yang telah kita sebarkan tersebut.
Akhirnya, pilihan kembali kepada kita sendiri. Dengan intelektualitas yang kita miliki dan norma-norma yang kita anut, kita mempunyai pilihan: (1) Menjadi manusia egois yang begitu saja percaya terhadap informasi hoaks karena informasi yang diberikan sesuai ‘keinginan’ kita; (2) Menjadi manusia yang apatis, yang langsung membuang hoaks ke dalam kotak sampah tanpa mau tahu informasi yang sesungguhnya; (3) Menjadi manusia bijak yang menjadikan hoaks sebagai “jembatan” mencari kebenaran dan memperluas wawasan.
Pilihan di tangan kita.
“Life is hard, it’s harder if you’re stupid.” (John Wayne, aktor legendaris)
(Letkol Inf Dax Sianturi, Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih)



