Tanah Papua
Hujan Tak Surutkan Semangat Umat Katolik Mimika Mengikuti Misa Jumat Agung
TIMIKA,KTP.com – Ribuan umat Katolik di Mimika mengikuti Misa Jumat Agung di Gereja St. Stefanus, Sempan, dalam suasana khidmat meskipun hujan gerimis turun membasahi kawasan gereja. Cuaca buruk tidak menyurutkan semangat umat untuk beribadah.
Misa dipimpin oleh Pastor Broery, OFM. Jemaat tampak memenuhi hampir seluruh area gereja, termasuk tenda tambahan yang disediakan di bagian luar gereja.
Sebelum misa dimulai, Gereja St. Stefanus Sempan menggelar perayaan Pekan Suci dengan pertunjukan Jalan Salib sebagai pembukaan pada pukul 08.00 WIT. Prosesi ini bertujuan mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Dalam homilinya, Pastor Broery, OFM menyampaikan bahwa bacaan pada hari itu menceritakan kematian tragis Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Kematian ini telah dinubuatkan Nabi Yesaya secara jelas, yaitu bagaimana Yesus diperlakukan tidak adil bahkan diposisikan sebagai pemberontak.
“Tidak ada seorang pun yang membela-Nya. Murid-murid-Nya yang pernah mengikuti Dia menghilang. Tinggal Yesus seorang diri. Kita bisa membayangkan betapa beratnya Yesus berjuang seorang diri,” ujar Pastor Broery.
Ia menjelaskan, Yesus tidak hanya menerima pukulan, tetapi juga cacian dan olok-olokan. Bahkan Ia dianggap tidak berguna sehingga penyaliban menjadi hal yang tepat bagi Sang Juru Selamat. “Itulah kisah Yesus yang menjadi korban ketidakadilan. Meski demikian, Yesus tidak melawan. Ia tetap setia memikul salib hingga wafat di kayu salib, semuanya demi umat manusia,” lanjutnya.
(Baca Juga: Ribuan Umat Katolik di Mimika Rayakan Kamis Putih dengan Khidmat)
Pastor Broery menegaskan bahwa perlakuan buruk yang Yesus terima tidak mengurangi cinta-Nya kepada manusia. “Ia tidak membalas, tidak mengutuk, apalagi membuat orang lain susah untuk berkembang. Kadang-kadang kata-kata cibiran kita menyakitkan sesama kita. Yesus tetap sama: cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” pesannya.
Ia juga mengajak umat berdoa memohon agar Tuhan mengingatkan tentang kasih Putra-Nya, sehingga umat tidak mudah menyalibkan orang lain dengan kata-kata dan tindakan. “Kita bersyukur kepada Tuhan karena salib Putra-Nya menyelamatkan kita,” tutup Pastor Broery.
Setelah homili, Misa dilanjutkan dengan prosesi cium salib sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Yesus yang rela mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.
Dalam tradisi Gereja Katolik Roma, prosesi penciuman salib Kristus pada perayaan Jumat Agung bukanlah tindakan berhala, karena yang dihormati bukanlah salibnya, melainkan makna penyaliban-Nya.
Penghormatan kepada Kristus yang tersalib ini sesuai dengan ajaran Sabda Tuhan sebagaimana tertulis dalam Surat Rasul Paulus: “Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain dari Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (EH)

















