Tanah Papua
Stok Obat di Mimika Terjamin Aman, Dinkes Fokus Rehabilitasi Fasilitas Kesehatan hingga Penanganan Kusta
TIMIKA,KTP.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika memastikan bahwa persediaan obat-obatan serta bahan medis habis pakai (BMHP) untuk masyarakat masih dalam kondisi aman dan cukup. Hal ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Golfried Maturbongs, pada Rabu (1/6/2026).
Menurut Golfried, stok yang ada saat ini masih sanggup memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan sembari menanti proses pengadaan untuk anggaran tahun 2026. Ia menegaskan bahwa ketahanan obat-obatan di wilayah tersebut tidak mengalami kendala.
Di samping urusan stok medis, Dinas Kesehatan Mimika juga tengah menyiapkan berbagai program pembangunan dan rehabilitasi fasilitas kesehatan sepanjang tahun 2026. Sejumlah rencana prioritas meliputi pembangunan puskesmas baru di Kelurahan Perintis, pengembangan layanan di wilayah pesisir dan pedalaman, serta perbaikan beberapa puskesmas yang sarana prasarananya perlu ditingkatkan.
Golfried menekankan bahwa peningkatan fasilitas ini krusial demi menghadirkan pelayanan kesehatan yang optimal bagi seluruh warga Mimika, dari kota hingga pelosok.
Salah satu fokus utama adalah rehabilitasi fasilitas perawatan bagi pasien kusta di wilayah Pigapu. Fasilitas yang ada saat ini dinilai sudah tidak layak dan tidak mampu mendukung pelayanan maksimal. “Bangunan yang ada sekarang sudah tidak memungkinkan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien kusta. Karena itu, rehabilitasi menjadi prioritas kami tahun ini,” ujar Golfried.
Dalam perkembangan terkait penyakit kusta, Golfried mengungkapkan bahwa kasusnya kini tidak lagi terpusat di satu wilayah tertentu. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, temuan kasus tersebar di beberapa lokasi seperti SP 2, SP 5, dan kawasan Kota Timika.
Untuk menekan penyebaran, Dinkes Mimika memperkuat strategi penemuan kasus secara aktif dengan meningkatkan skrining oleh tenaga kesehatan, terutama terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita. “Kami memperkuat skrining agar penemuan kasus baru lebih cepat, sehingga penanganan bisa dilakukan sejak dini,” pungkasnya. (EH)


















