Connect with us

Tanah Papua

Kasus DBD di Puskesmas Timika Mencapai 20 Hingga Mei, Meningkat Dibanding Tahun Lalu

Published

on

TIMIKA,KTP.com – Dinas Kesehatan setempat mencatat peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Timika. Hingga tanggal 8 Mei 2026, total kasus yang dilaporkan mencapai 20.

Kepala Puskesmas Timika, dr. Mozes Untung, menjelaskan bahwa angka ini menunjukkan kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Sepanjang tahun 2025, total kasus DBD di Puskesmas Timika hanya sekitar 13 kasus. Sementara untuk tahun ini, per kemarin (8 Mei) sudah ada 20 kasus,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa data tersebut dihimpun dari laporan pasien yang dirawat di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lain, selama alamat tinggal pasien masih berada dalam wilayah kerja Puskesmas Timika. Setiap menerima laporan kasus, pihak puskesmas akan segera melakukan tindak lanjut.

dr. Mozes memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan. “Begitu ada laporan kasus, tim kami akan turun melakukan penyelidikan epidemiologi. Kami mencari rumah pasien, melakukan asesmen lingkungan, dan mengecek apakah ada jentik nyamuk DBD di sekitar,” jelasnya.

Jika ditemukan sarang nyamuk, petugas akan melakukan abatisasi (pemberian bubuk pembasmi jentik) dan fogging (pengasapan). Selain itu, warga yang tinggal di sekitar rumah pasien, yaitu di depan, belakang, kiri, dan kanan, diinstruksikan untuk memeriksakan darah guna deteksi dini kemungkinan adanya kasus DBD lain dalam lingkungan yang sama.

Dokter Mozes juga mengingatkan bahwa virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini aktif menggigit dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, fogging yang efektif harus dilakukan pada pagi hari.

Ia menjelaskan bahwa nyamuk DBD tidak berkembang biak di tanah, melainkan di air bersih yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Tempat favoritnya antara lain bak mandi, penampungan air, ember kecil, pot bunga, sampah bekas, hingga sela-sela daun tanaman yang menampung air hujan. “Waktu yang dibutuhkan dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa adalah satu minggu. Karena itu, genangan air yang dibiarkan lebih dari seminggu akan menjadi tempat ideal perkembangbiakan,” terangnya.

Menyikapi peningkatan kasus, dr. Mozes mengimbau masyarakat untuk rutin membersihkan sarang nyamuk setiap minggu. Beberapa tindakan yang dianjurkan:

· Menguras bak mandi.
· Membersihkan tempat minum air.
· Mengumpulkan dan membuang barang bekas yang dapat menampung air.
· Membersihkan taman atau pot bunga agar tidak terjadi genangan air lebih dari tujuh hari.

Menurutnya, faktor musim hujan dan kebersihan lingkungan sekitar rumah menjadi penyebab utama lonjakan DBD. Ia juga menyoroti bahwa anak-anak rentan tertular karena banyaknya tempat berkembang biak nyamuk di sekitar sekolah, kampus, tempat kerja, maupun di rumah.

“Kami mohon kesadaran masyarakat untuk secara rutin membersihkan sarang nyamuk di lingkungan masing-masing. Terutama untuk lingkungan sekolah, agar anak-anak terlindungi,” pungkas dr. Mozes Untung. (EH)

Komentar
Continue Reading
Advertisement
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *