Connect with us

Tanah Papua

Penerbangan Perintis Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Boven Digoel dan Sekitarnya

Published

on

JAKARTA, Kabartanahpapua.com – Penerbangan perintis yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Angkutan udara perintis dan angkutan kargo perintis melayani daerah-daerah yang berada di kawasan 3T yakni Tertinggal, Terdepan dan Terluar di Indonesia.

Kegiatan angkutan udara perintis dan kargo perintis ini sejalan dengan program Presiden Jokowi yaitu untuk menurunkan disparitas harga-harga bahan pokok dan barang penting yang dibutuhkan di seluruh pelosok Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana Pramesti di Jakarta.

(Baca Juga: Tekan Tingkat Kemahalan Harga Barang, Pemda Puncak Beli 2 Pesawat Cessna)

Salah satu dampak positif angkutan kargo perintis, kata Polana, telah dirasakan masyarakat di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Melalui Bandar Udara Tanah Merah, barang kebutuhan dapat disalurkan ke sejumlah distrik (kecamatan).

Polana menegaskan program penerbangan perintis kargo sebagai perwujudan kehadiran negara untuk menjawab persoalan di daerah yang sulit dijangkau oleh moda transportasi darat.

Untuk itu mari kita saling berkoordinasi demi satu tujuan yang mulia ini sesuai kewenangan tugas masing-masing, sehingga kegiatan angkutan udara perintis kargo ini dapat tepat sasaran dan dirasakan manfaatnya oleh saudara-saudara kita di Papua,” kata Polana.

Aktivitas bongkar muat di gudang kargo Bandar Udara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. (Jojo Raharjo)

Subsidi Angkutan Perintis

Saat ini, kata Polana, Bandar Udara Tanah Merah memegang peranan penting di wilayah Papua selatan karena menjadi penghubung penerbangan kargo perintis di kabupaten lain seperti Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mappi dan juga 15 distrik di Kabupaten Boven Digoel.

Untuk mendukung terselenggaranya angkutan udara perintis dan kargo udara perintis yang terjangkau maka Kemenhub memberikan subsidi untuk beberapa rute yang kurang menguntungkan secara bisnis.

“Sejumlah rute dari Bandar Udara Tanah Merah yang mendapat subsidi di antaranya rute distrik Bomakia, Oksibil, Kiwirok, Koroway Batu, Manggelum, Wanggemalo, dan Yaniruma,” tutur Polana.

(Baca Juga: PAD Rendah, Bupati Mamberamo Tengah Keluhkan Minimnya Infrastruktur)

Penerbangan angkutan perintis dan kargo udara perintis terselenggara bekerja sama dengan sejumlah maskapai. Untuk penerbangan perintis ini, umumnya maskapai mengoperasikan pesawat tipe kecil yang sesuai dengan medan pegunungan seperti pesawat jenis Pilatus Porter dan Caravan.

Polana mengatakan program kargo perintis sudah berjalan sejak 2017 lalu sesuai perintah Presiden dan dampaknya sudah dirasakan warga di daerah terpencil yang tinggal di wilayah pegunungan.

“Sejak ada program ini, harga-harga barang bisa ditekan sampai 40 persen, bahkan 50 persen untuk jenis-jenis barang tertentu,” ungkap Polana.

Aktivitas bongkar muat di gudang kargo Bandar Udara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. (Jojo Raharjo)

Dirasakan Warga Pedalaman

Pernyataan senada disampaikan Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas III Tanah Merah Asep Soekarjo yang menilai program subsidi untuk penerbangan dan angkutan kargo perintis sangat membantu warga di pedalaman Papua.

Dengan adanya subsidi, kata Asep, warga pedalaman bisa membeli tiket dengan harga terjangkau. Selain itu, warga pedalaman juga bisa membeli barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan tertentu dengan harga terjangkau dengan adanya subsidi angkutan kargo perintis.

Kehadiran program ini sangat membantu peningkatan ekonomi masyarakat Kabupaten Boven Digoel dan sekitarnya,” ujar Asep.

(Baca Juga: Demokrasi yang Kondusif dan Stabilitas Keamanan Modal Memperkuat Ekonomi Nasional)

Bandar Udara Tanah Merah, kata Asep, melayani 60 kali pergerakan pesawat setiap hari. Sebagian besar adalah penerbangan kargo perintis ke daerah pedalaman.

“Bandar Udara Tanah Merah melayani pengiriman barang kebutuhan pokok sebanyak 60 ton setiap hari. Dengan jumlah sebesar itu, warga di pedalaman berharap bisa ditingkatkan lagi mengingat wilayah Pegunungan Bintang hanya bisa diakses melalui transportasi udara,” papar Asep.

Menyinggung kebijakan pemerintah pusat yang gencar membangun infrastruktur khususnya bandar udara dan sarana pendukungnya, ia berharap Bandar Udara Tanah Merah juga mendapat perhatian. Khususnya, kata dia, fasilitas gudang kargo bandara yang ada saat ini perlu diperbesar lagi.

“Seiring semakin meningkatnya permintaan kargo barang, ke depan diperlukan fasilitas gudang kargo yang berukuran lebih besar dari ada yang ada sekarang ini sehingga permintaan masyarakat dapat dipenuhi,” ucap Asep. (Ong)

Komentar
Continue Reading
Advertisement