Connect with us

Tanah Papua

Bantuan Tahap II untuk Pengungsi Nduga Segera Dikirim ke Wamena

Published

on

JAKARTA, Kabartanahpapua.com – Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan seluruh bantuan tahap II untuk pengungsi di Kabupaten Nduga akan selesai diterbangkan ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya pekan ini.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kepastian pengiriman tersebut setelah menerima laporan dari Tim Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS).

“Kepastian pengiriman bantuan itu setelah Tim PSKBS melakukan koordinasi dengan aparat keamanan, Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Papua, dan Dinsos Kabupaten Jayawijaya. Selanjutnya tugas Dinsos Kabupaten Jayawijaya untuk mendistribusikan,” ujar Agus di Jakarta, Minggu (21/7/2019).

(Baca Juga: Bantah Laporan Solidaritas untuk Nduga, Kodam Cenderawasih: Laporan Asal Bunyi)

Agus menjelaskan bahwa penanganan pengungsi konflik sosial sangat berbeda dengan penanganan korban bencana alam. Karena itu, kata dia, pihaknya harus melibatkan semua unsur dari pemerintah pusat, pemda, dan TNI-Polri.

“Dengan kerja sama semua unsur maka masalah yang dihadapi pengungsi dapat diselesaikan,” kata Agus.

Kendala Pendataan Pengungsi

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat mengakui saat ini pemerintah mengalami kendala dalam melakukan pendataan pengungsi akibat konflik bersenjata di Kabupaten Nduga.

“Para pengungsi tidak terkumpul di satu tempat tapi tinggal di rumah kerabat mereka. Inilah yang menyulitkan pemerintah untuk melakukan pendataan,” ujar Harry.

Data yang dikumpulkan Kemensos, kata Harry, diperkirakan ada 2 ribu warga mengungsi akibat konflik bersenjata antara TNI-Polri dengan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pimpinan Egianus Kogoya. Warga yang mengungsi tersebar di Distrik (kecamatan) Mbua, Yal, Yigi, Mapenduma, Nirkuri, dan Mbulmu Yalma di Kabupaten Nduga dan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

“Jumlah pengungsi pelajar SD, SMP, dan SMA diperkirakan 600 orang yang terdata di Distrik Mbua, Yal, dan Mbulmu Yalma. Sementara untuk pengungsi kelompok dewasa dan rentan masih sulit terdata karena faktor keamanan dan masyarakat masih takut berkomunikasi dengan pihak luar,” papar Harry.

(Baca Juga: KKSB, Hoaks, dan Isu HAM)

Berdasarkan laporan Kodim 1702 Jayawijaya bahwa para pengungsi asal Nduga tinggal di rumah kerabat mereka di perkampungan Nduga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

“Ini berarti tidak adalah lagi warga Nduga yang tinggal di tenda-tenda pengungsi di Wamena,” katanya.

Dari sumber yang sama, juga melaporkan bahwa Pemda Kabupaten Lanny Jaya masih terus menyalurkan bantuan untuk pengungsi asal Nduga. Harry menegaskan, laporan dari Kodim 1702 Jayawijaya ini membantah isu bahwa ada pengungsi asal Nduga yang meninggal dunia karena tidak tertangani.

“Dinsos Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini belum menerima laporan ada pengungsi asal Nduga yang meninggal dunia di Wamena,” papar Harry.

Tim PSKBS mengecek bantuan Kemsos yang tersimpan di gudang Dinsos Papua sejak April 2019. (Humas Kemsos)

Terbagi Dua Tahap

Harry menjelaskan bahwa pemerintah telah mengalokasikan bantuan bagi para pengungsi konflik bersenjata di Kabupaten Nduga yang terbagi dalam dua tahap dengan total sebesar Rp740.449.000. Bantuan tahap pertama yang sudah disalurkan berupa 50 ton candangan beras pemerintah dan sudah diserahterimakan kepada Pemda Kabupaten Nduga.

“Bantuan tahap pertama ini digabung dengan bantuan pemda berupa sembako yang terdiri dari mie instan sebanyak 1.680 karton, gula pasir sebanyak 9.520 kilogram, minyak goreng 9.873 liter, garam 19.200 bungkus, ikan kaleng 9.550 bungkus, kopi 9.550 bungkus dan beras,” kata Harry.

Untuk bantuan tahap II terdiri dari perlengkapan bermain sebanyak 250 paket, perlengkapan belajar anak sebanyak 250 paket, dan perlengkapan olahraga 30 paket. Ada juga perlengkapan kebutuhan rentan untuk balita, lansia, dan kebutuhan khusus sebanyak 850 paket.

“Semua bantuan tersebut sudah ada di gudang Dinsos Provinsi Papua dan siap diterbangkan ke Wamena,” ujar Harry.

(Baca Juga: Ada Kelompok yang Ingin Menggoreng Isu Nduga Lewat Kegiatan Sekolah Darurat)

Selain bantuan bahan makanan dan kebutuhan lainnya, kata Harry, Kemensos juga telah memberikan bantuan layanan dukungan psikososial (LDP) pada bulan Februari 2019 lalu. Dari kegiatan LDP terhadap penyintas anak dan guru di sekolah darurat di Gereja Kingmi Sinakma, kata Harry, Kemensos kemudian membuat beberapa asesmen.

“Pertama, kebutuhan mendesak selain kebutuhan dasar yakni pelayanan kesehatan, karena banyak penyintas yang mengalami luka-luka saat berjalan kaki dari Nduga ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya,” kata Harry.

“Kedua, kondisi sekolah darurat yang kurang memadai sebagai tempat belajar mengajar, dan asesmen terakhir, kesulitan melakukan pendataan pengungsi karena tidak adanya penampungan khusus,” kata Harry menambahkan.

Sebelumnya, Tim Solidaritas untuk Nduga dalam diskusi di LBH Jakarta, Kamis (18/7/2019) lalu menyebut ada sekitar 5 ribu warga asal Nduga mengungsi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya akibat konflik bersenjata di Kabupaten Nduga. Mereka juga mengklaim ada 130-an pengungsi meninggal dunia akibat penyakit dan kelaparan karena ketiadaan bantuan. (Ong)

Komentar