Connect with us

Tanah Papua

Aparat dan Separatis Saling Tuding Dalam Kasus Kematian Pendeta Yeremia Zanambani

Published

on

TIMIKA, Kabartanahpapua.com – Empat orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka serius akibat aksi kekerasan bersenjata di Kabupaten intan Jaya dalam sepekan terakhir.

Dari 4 orang korban meninggal dunia, dua di antaranya adalah prajurit TNI dari Satgas Aparat Teritorial (Apter) yang bertugas di Pos Koramil Persiapan Distrik (kecamatan) Hitadipa.

Korban terakhir dari rangkaian kekerasan ini adalah Pendeta Yeremia Zanambani yang bermukim di Distrik Hitadipa. Pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) ini ditemukan meninggal dunia dengan luka bacok dan luka tembak pada Minggu (20/9/2020) pagi.

(Baca Juga: Anggota Babinsa dan Pengemudi Ojek Tewas Dibantai KKSB)

Dari sejumlah pemberitaan, Pendeta Yeremia diduga dibunuh pada Sabtu (19/9/2020) petang, selang beberapa jam pasca-kontak tembak antara kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) dengan TNI di Pos Koramil Hitadipa yang menewaskan Pratu Dwi Akbar Utomo.

Berbeda dengan kasus kekerasan bersenjata yang menewaskan warga sipil dan 2 prajurit TNI sebelumnya, kematian Pendeta Yeremia menjadi sorotan berbagai pihak yang sebagian di antaranya menuding anggota TNI sebagai pelaku pembunuhan.

Penggiat HAM yang sebelumnya diam menonton pembunuhan warga sipil dan prajurit TNI, akhirnya bersuara mengecam aparat dan mendesak dibentuknya tim pencari fakta mengusut kematian Pendeta Yeremia.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bahkan langsung bersurat kepada Presiden Joko Widodo mendesak Kapolri untuk mengusut tuntas kasus kematian sang pendeta.

Simpang Siur

Kasus kematian Pendeta Yeremia pertama kali disampaikan akun facebook The TPNPB News yang menuding prajurit TNI menjadi pelaku pembunuhan.

“Awalnya pasukan TPNPB-OPM menembak mati 1 anggota pasukan TNI-POLRI pada saat interogasi warga sipil, maka pasukan TNI-POLRI langsung balik tembak mati Pdt Yeremia dengan tunduhan bahwa kamu yang menelpon pasukan TPNPB-OPM dan mereka datang menembak anggota kami,” tulis akun media propaganda Organisasi Papua Merdeka (OPM) tersebut pada Minggu (20/9/2020).

(Baca Juga: Dua Warga Korban Penembakan KKSB di Intan Jaya Dievakuasi ke Timika)

Versi lain kasus ini disampaikan media Suarapapua.com yang menyebut Pendeta Yeremia dibunuh saat memberi makan ternaknya.

“Bapak dia (Pendeta Yeremia) pergi ke Bomba, kampung yang tidak jauh dari Hitadipa. Tujuan almarhum untuk kasi makan ternak babi. Mayatnya baru ditemukan pagi tadi dengan kondisi tangan sudah disabet dan telah ditembak,” kata warga kampung Hitadipa yang dilansir dari Suarapapua.com.

Cerita warga ini sama dengan pengakuan pihak keluarga yang menyebut pendeta bersama istrinya pergi memberi makan ternaknya. Setelah memberi makan ternak, istri pendeta lebih dulu pulang ke rumah.

“Karena hingga pagi Pdt Yeremia belum pulang sehingga keluarga baru ke bomba, di kandang babi untuk mengecek keberadaanya. Namun keluarga mendapatinya dalam kondisi tidak bernyawa,” katanya.

Sumber informasi Suarapapua.com, juga menceritakan proses terbunuhnya pendeta. “Dengan alasan untuk mencari dan mengejar pelaku yang tembak mati anggota TNI dan mencari dua pucuk senjata yang telah dirampas tersebut, para anggota TNI menyusul Pdt Yeremia ke kandang babinya.”

“Di kandang babi, Pdt Yeremia disabet dengan alat tajam, setelah itu ia ditembak hingga tewas di kandang babinya yang terletak di Bomba,” papar sumber informasi tersebut.

Versi berbeda disampaikan Jubi.co.id yang menyebut aparat menembak pendeta saat masih berada di kandang ternaknya.

“Mama sempat bilang ke bapa (Pendeta Yeremia) ayo kita pulang sudah malam, tapi kondisi masih terang, almarhum menyalakan api. Setelah itu muncul aparat dan langsung melepaskan tembakan,” kata Aner Maisini kepada Jubi.co.id.

(Baca Juga: Anggota Satgas Apter Gugur Dalam Kontak Tembak Dengan KKSB di Kampung Hitadipa)

Cerita lain diungkapkan Ketua Klasis GKII Sugapa Pendeta Timotius Miagoni kepada Suara.com. Menurutnya, Pendeta Yeremia ditembak oleh TNI saat hendak memberikan makan ternaknya.

“Ya (benar) itu, istrinya tahu itu, ada dua ibu saksinya itu. Sorenya dia gali ubi untuk kasih makan babi di kandang lalu tentara mereka sedang di pinggir jalan langsung mereka tembak,” katanya kepada Suara.com, Senin (21/9/2020).

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal. (Humas Polda Papua)

Bantahan TNI-Polri

Sementara itu, Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Sutriastawa menepis tudingan bahwa TNI pelaku pembunuhan Pendeta Yeremia.

“Mereka (KKSB) sedang mencari momen untuk menarik perhatian di Sidang Umum PBB akhir bulan ini. Dan inilah yang saya khawatirkan, bahwa rentetan kejadian beberapa hari ini adalah settingan mereka yang kemudian diputarbalikkan bahwa TNI menembak pendeta.”

“Harapan mereka, kejadian ini jadi bahan di Sidang Umum PBB. Saya tegaskan bahwa ini semua fitnah keji dari gerombolan separatis teroris Papua,” ujar Sutriastawa, Minggu (20/9/2020).

Sutriastawa menyebut ftnah dan provokasi KKSB tersebut sebagai rekayasa untuk menghasut masyarakat sekaligus menyudutkan TNI, Polri dan Pemerintah jelang Sidang Umum PBB.

“TNI membantu Polri bertugas untuk melindungi masyarakat dari kebiadaban KKSB seperti yang sudah kami tunjukkan dalam sepekan terakhir,” katanya melalui keterangan tertulis.

Bantahan senada disampaikan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal yang menyebut tuduhan tersebut sengaja disebarluaskan KKSB seolah aparat yang membunuh pendeta. Padahal, kata dia, sejauh ini tidak ada pasukan TNI-Polri di Distrik Hitadipa dan hanya ada Pos Koramil persiapan yang sebelumnya diserang KKSB.

“Ini adalah bentuk rekayasa KKSB dengan harapan kejadian ini jadi bahan di Sidang Umum PBB,” ujar Kamal di Jayapura, Senin (21/9/2020).

(Baca Juga: Isu Pendeta Germin Nirigi Dihembuskan untuk Menolak Kehadiran TNI-Polri di Nduga)

Setelah mendengar kabar terbunuhnya seorang pendeta GKII di Hitadipa, kata Kamal, personel Polsek Sugapa langsung menemui Ketua Klasis GKII Pendeta Timotius Miagoni. Dalam pertemuan itu, Pendeta Miagoni mengaku mengetahui kabar terbunuhnya Pendeta Yeremia dari telepon kerabatnya di Distrik Hitadipa.

“Dari keterangan yang saya dengar, saat itu almarhum bersama istri ke kandang ternak untuk memberi makan kemudian istrinya kembali ke rumah di kampung. Sekitar pukul 19.00 WIT, korban tidak kembali ke rumah sehingga istri korban mencari ke kandang ternak di Bomba dan melihat korban sudah meninggal dunia.”

“Itu yang saya dengar, karena saya belum ke kampung sehingga saya tidak dapat berbicara lebih jauh lagi,” ujar Miagoni kepada personel Polsek Sugapa.

Untuk mengungkap kasus kematian Pendeta Yeremia, kepolisian akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kejadian.

“Dari olah TKP ini diharapkan mendapat informasi terkait kasus ini dan untuk memastikan penyebab kematian Pendeta Yeremia,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya dalam sepekan terakhir terjadi rentetan kekerasan bersenjata yang menewaskan 4 orang dan melukai 2 orang lainnya. Dari hasil penyelidikan kepolisian pelaku rentetan teror bersenjata ini diduga dilakukan KKSB pimpinan Jelek Waker.

“Hasil penyelidikan kepolisian, pelaku rangkaian aksi kekerasan di Kabupaten Intan Jaya diduga dilakukan KKSB pimpinan Jelek Waker,” pungkas Kamal. (Ong)

Komentar
Continue Reading
Advertisement