Tanah Papua
Memperjuangkan Rakyat Seperti Apa, Kalau Bakar Sekolah dan Rumah Sakit?
TIMIKA, Kabartanahpapua.com – Bupati Mimika Eltinus Omaleng membenarkan aksi pengrusakan dan pembakaran Rumah Sakit Banti dan gedung Sekolah Banti (SD dan SMP) yang diduga dilakukan oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Sabtu (24/3/2018) lalu.
Sebelum kejadian itu, kata Eltinus, anggota KKSB yang berasal dari Kali Kabur sudah melakukan penjarahan dan membongkar rumah warga di Kampung Banti 1, Banti 2 dan Kampung Opitawak.
“Ada 15 ekor babi punya mama saya mereka curi dan adik-adik saya yang menikah dengan suku lain juga dikejar-kejar. Sewaktu melakukan aksi pembakaran mereka juga membakar rumah punya bapak saya,” kata Eltinus yang ditemui Selasa (27/3/2018) kemarin.
(Baca Juga: Kapolda Papua Akui Sejumlah Kampung di Tembagapura Masih Dikuasai KKSB)
Menurut Eltinus, sejak keberadaan KKSB di Kampung Banti dan sekitarnya kehidupan masyarakat berada dalam tekanan karena masyarakat tidak bisa leluasa lagi untuk bepergian. “Karyawan perusahaan di Tembagapura yang punya keluarga di Banti dan Opitawak digeledah saat akan masuk atau ke luar kampung. Mereka digeledah dan disuruh telanjang,” ujar Eltinus.
Dia mengaku sangat kecewa dengan aksi pengrusakan dan pembakaran fasilitas umum dan rumah warga yang dilakukan KKSB di Kampung Banti dan Opitawak. Tindakan kelompok yang mengatasnamakan TPN-OPM itu, bukan lagi memperjuangkan rakyat tapi melakukan tindakan kriminal.
“OPM tidak mungkin seperti itu, merusak fasilitas umum untuk masyarakat atau mengganggu masyarakat. Dulu Almarhum Kelly Kwalik tidak seperti itu, mereka tidak mengganggu masyarakat, karyawan di perusahaan, dan ada tempat untuk perang. Ini berbeda, mereka ini pengacau, pelaku kriminal,” kata Eltinus.
Tidak Ada Pelayanan Masyarakat
Eltinus mengungkapkan sejak keberadaan anggota KKSB di Banti dan Opitawak, tidak ada aktivitas pelayanan masyarakat seperti proses belajar mengajar ataupun pelayanan kesehatan karena alasan keamanan. Bahkan rencana pembangunan jalan yang menghubungkan Kampung Banti dan Arwanop terpaksa dihentikan karena mereka merusak alat berat.
“Kemarin Pemda Mimika akan membangun jalan yang menghubungkan Banti dan Opitawak yang nantinya akan tembus ke Ilaga, Kabupaten Puncak. Tapi karena mereka merusak alat berat, maka proyek dari DAK senilai Rp46 miliar itu kami alihkan ke Timika. Mungkin jalan bisa dibangun kembali kalau bersama angkatan (TNI),” kata Eltinus.
Ia pun mengaku heran karena aktivitas anggota KKSB ini belum ditindak aparat kepolisian atau TNI. Namun Eltinus juga heran karena laporan yang ia terima bahwa anggota KKSB itu memegang senjata yang berbeda dari kelompok Kelly Kwalik dulu. “Katanya senjata mereka canggih-canggih dan pelurunya banyak, masih baru-baru lagi. Ini yang bikin saya heran dan mungkin itu juga yang jadi pertimbangan aparat,” ujar Eltinus.
(Baca Juga: Mobil Dokter RS Banti Dibakar OTK)
Menurut informasi dari warga yang ia terima, aksi anggota KKSB ini sebagai protes terhadap dirinya selaku kepala daerah. Iapun menepis isu terkait penolakan PT Freeport Indonesia untuk memperbaiki aliran listrik yang menjadi pemicu aksi pengrusakan tersebut.
“Bukan karena alasan listrik itu, kalau permintaan aliran listrik itu permintaan dari masyarakat Banti dan sekitar kepada Pemerintah. Itu ada programnya, tapi harus aman dulu dan saya tegaskan tidak akan pernah mau bantu orang-orang seperti itu (KKSB). Bagaimana mau bantu, sekolah saja mereka bakar,” kata Eltinus.
Pemda Mimika, kata Eltinus, belum punya tahu bagaimana harus mengembalikan kondisi kehidupan masyarakat di Banti dan sekitarnya saat ini. “Bagaimana kita mau masuk kesana, aparat saja tidak berani apalagi kami bisa-bisa kepala hilang. Kami belum tahu harus bertindak seperti apa, tapi kalau ada masukan dari aparat TNI dan kepolisian, mungkin kita bisa bersama-sama masuk kesana,” kata Eltinus. (Rex/Ong)



