Tanah Papua
Akibat Jaringan Hilang,Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Geruduk Kantor Telkom Merauke
MERAUKE KTP.com – Penurunan kualitas layanan internet yang terjadi di sejumlah daerah di Papua kini menjadi persoalan serius hingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat luas.
Pada hari Kamis, 21 Agustus 2025, aliansi mahasiswa dan masyarakat di Kabupaten Merauke menggeruduk kantor PT Telkom yang beralamat di Jalan Postel, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Aksi yang dipimpin oleh Salerus Kamogou selaku Koordinator Lapangan (Koorlap) dan Ladika Lobobar selaku Koordknator Aksi ini dilaksanakan pada pukul 09.00 WIT dan diikuti oleh kurang lebih 1000 orang.
Berdasarkan keterangan yang diterima media ini, sekitar pukul 08.00 WIT massa berkumpul di bundaran Tugu Libra, Jalan Brawijaya.
Pada pukul 09.30 WIT, massa mulai bertolak menuju kantor PT Telkom. Setibanya di lokasi, massa lalu berorasi. Berbagai spanduk bertuliskan kata-kata kiasan pun dibentangkan.
Dalam orasinya, Koorlap, Salerus Kamogou menyampaikan bahwa mahasiswa dan masyarakat bersatu untuk menuntut kejadian penurunan jaringan di Kabupaten Merauke.
“Kejadian ini sudah berulang kali tiap tahun PT Telkom selalu berulang dengan kejadian yang sama,” teriak Salerus.
“Kami meminta kepada pemerintah untuk mengganti provider agar tidak menggunakan lagi Telkom karena sudah banyak mereka menipu masyarakat dengan alasan yang berbagai macam kejadian ini sejak tahun 2023 sampai dengan sekarang tiap tahun kami merasakan penurunan ekonomi, keterlambatan komunikasi dikarenakan jaringan yang selalu hilang tiap tahunnya,” ungkapnya menambahkan.
Massa dalam aksi tersebut juga menuntut pihak Telkom agar dapat hadir di lokasi guna memberikan penjelasan mengenai penurunan kualitas jaringan tersebut serta memberikan solusi konkret.
Massa juga mengancam akan membakar kantor Telkom jika tidak mendapat respon yang baik dari pihak yang bersangkutan.
Tak lama kemudian, demo yang berlangsung damai itu pun diwarnai aksi bakar ban hingga berujung ricuh pada pukul 12.30 hingga pukul 15.00 WIT. Kantor Telkom kemudian dihujani batu, massa bahkan sempat melempar bom molotov.
Akibat aksi berujung ricuh itu, terdapat sejumlah kerugian yang dialami PT Telkom, diantaranya adalah kaca kantor pecah, papan plang PT Telkom yang rusak diamuk masa, serta tembok kantor yang hangus akibat ledakan bom molotov.
Pihak kepolisian kemudian memukul mundur massa dengan menembakkan gas air mata. Selanjutnya, sekitar 15.30 WIT General Manager (GM) PT Telkom, Antonius Joko Sritomo tiba ditengah pendemo dengan penjagaan ketat untuk menyampaikan kendala yang terjadi.
“Kami sampaikan bahwa sistem jaringan Telkom dari Sorong menuju Merauke melalui jalur Fakfak, Kaimana, dan Merauke saat ini mengalami gangguan, khususnya di ruas Fak-Fak,” terang Antonius.
Antonius melanjutkan, saat dilakukan perbaikan pertama, Merauke tidak terlalu terdampak karena masih mendapat dukungan jaringan dari kabel Timika – Dobo.
Namun demikian, kapasitas atas dukungan tersebut tidak sebesar jaringan normal, namun pihak Telkom mengupayakan agar layanan tidak terputus total.
Disampaikan, sebagai langkah darurat, pada Rabu malam, 20 Agustus 2025, Telkom menambah jaringan melalui satelit, dengan pemasangan perangkat di daerah Tanah Miring dan Kurik sebagai backup tambahan bagi Merauke.
Kendati demikian, kendala pun menghampiri akibat adanya kabel yang putus di antara Timika dan Nabire hingga mempengaruhi stabilitas jaringan.
“Kami memahami bahwa gangguan ini menimbulkan keresahan dan kerugian bagi masyarakat. Kami tegaskan, Telkom tidak pernah berniat mengabaikan layanan ini, karena kami juga sama-sama terdampak,” ungkap Antonius.
“Kami yang berada di Merauke maupun Jayapura terus memberikan masukan ke Telkom Pusat dan berkoordinasi dengan pemerintah untuk percepatan perbaikan,” lanjutnya.
Antonius pun menyampaikan bahwa rencana perbaikan sampai pada 5 September 2025. Kemudian, akan ada normalisasi sementara untuk jaringan di Merauke dan Timika.
Dengan catatan, pada tanggal 14 September 2025 Akan ada gangguan layanan kurang lebih 12 jam untuk perbaikan permanen serta pada tanggal 17 September 2025 Akan ada gangguan kembali kurang lebih 36 jam untuk tahap penyelesaian permanen di beberapa titik ruas kabel yang bermasalah.
“Aspirasi masyarakat adalah aspirasi kami juga. Kami pun tidak menginginkan gangguan ini terjadi, namun kondisi yang ada merupakan bencana teknis di luar kendali wilayah. Kami berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik, dengan batas kewenangan yang kami miliki di daerah, sambil menyampaikan seluruh aspirasi masyarakat kepada Telkom Pusat,” pungkasnya.
Usai mendengarkan jawaban dari GM Telkom Merauke, massa lalu melakukan penandatanganan tuntutan dan kemudian membubarkan diri.(MWW)
















