Purom Wenda, Pembunuh Berdarah Dingin Demi Ambisi Menjadi Panglima TPN-OPM

Tanah Papua195 Dilihat

JAYAPURA, Kabartanahpapua.com – Sekitar 15 tahun lalu, pria bernama lengkap Purom Okiman Wenda hanyalah pelaku kriminal kelas “teri” di Kabupaten Puncak Jaya. Pekerjaannya mabuk-mabukan dan memalak masyarakat. Karena ulahnya yang meresahkan warga, ia pun menjadi kejaran aparat kepolisian.

Untuk menghindari kejaran aparat, ia lalu lari ke hutan bergabung dengan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pimpinan Goliat Tabuni di Tinggineri. Pada periode itu, ia banyak menerima doktrin Papua Merdeka dan perjuangan bersenjata dari Goliat Tabuni.

“Metode pembelajaran yang hampir sama dialami Goliat Tabuni saat menjadi pengikut Kelly Kwalik di Kali Kopi, Kabupaten Mimika,” kata Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Letkol Inf Dax Sianturi.

(Baca Juga: Kapolda Papua: TNI-Polri Kejar Purom Wenda, Gembong Pengacau Keamanan di Lanny Jaya)

Seiring menurunnya aksi dari kelompok Goliat Tabuni karena kejaran aparat, secara perlahan iapun memisahkan diri dan mulai menunjukkan eksistensinya. Purom lalu membentuk kelompok sendiri dengan anggota yang berusia muda dan memilih Distrik Balingga di pedalaman Lanny Jaya sebagai basis kekuatannya.

Purom yang berambisi merebut posisi sebagai pimpinan tertinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB), sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) lalu melakukan aksi-aksinya yang terkenal sadis dan brutal.

“Aksi Purom dan pengikutnya yang terkenal sadis dan brutal, untuk menunjukkan eksistensinya untuk menjadi panglima perang, yang merupakan strata sosial tertinggi sebagaimana budaya perang suku-suku di wilayah pegunungan tengah Papua,” ujar Dax.

Berikut catatan jejak kekejaman KKSB pimpinan Purom Wenda di Kabupaten Lanny Jaya:

Tahun 2012

Purom Wenda mulai dikenal luas setelah melakukan penyerangan terhadap Mapolsek Pirime pada 27 November 2012. Ia bersama pengikutnya membunuh dengan keji 3 anggota Polsek Pirime dan merampas 3 pucuk senjata api (senpi), yakni 2 senjata laras panjang dan satu pistol revolver.

Beberapa hari berselang, ia bersama pengikutnya lalu menyerang rombongan Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian yang saat itu hendak meninjau Polsek Pirime. Dalam kontak tembak itu, satu pengikut Purom bernama Wandis Wanimbo tewas tertembak.

“Karena ingin menunjukkan eksistensinya, ia bahkan nekat mengorbankan anggotanya untuk menyerang rombongan Kapolda yang pasti dengan pengawalan cukup banyak,” kata Dax.

(Baca Juga: 2 Anggota KKSB Tewas Dalam Kontak Tembak Dengan TNI-Polri di Lanny Jaya)

Sebulan berselang, pada Desember 2012, Purom bersama pengikutnya menembak mati warga sipil, Ferdi Turuallo, seorang pekerja bangunan di Distrik Tiom. Dari ciri-ciri korban dengan luka tembak di kepala, diduga Ferdi ditembak dari jarak dekat.

Setelah aksi tersebut, Purom mulai dikenal sebagai salah satu pentolan KKSB dengan pengikut yang semakin banyak. Pada periode tersebut, muncul nama baru yakni Enden Wanimbo yang diduga kuat adalah kolega Purom di Lanny Jaya.

Tahun 2014

Setelah beberapa lama bersembunyi dari kejaran aparat, pada 30 Mei 2014, KKSB pimpinan Purom Wenda kembali beraksi dengan menembak mati anggota Polri, Bripda Irfan di Distrik Tiom.

Dua bulan berselang, pada 17 Juli 2014, kelompok ini kembali menembak mati seorang pengemudi ojek bernama Nasito di dekat SD Inpres Dugume, Distrik Tiom.

Aksi kelompok ini terus berlanjut, pada 28 Juli 2014, mereka melakukan penghadangan dan penyerangan patroli gabungan Polres Lanny Jaya dan Polsek Pirime di Kampung Nugume, Distrik Pirime.

(Baca Juga: TNI-Polri Duduki Markas KKSB di Yambi dan Tiom, Pemerhati HAM Berkoar-Koar)

Pada 1 Agustus 2014, Purom dan pengikutnya kembali melakukan penghadangan di Jalan Trans Papua, Wamena-Tiom di Distrik Pirime. Saat itu, mereka menyerang rombongan pasukan TNI yang melakukan pergeseran pasukan dari Wamena menuju Tiom.

“Kejadian ini kembali terlihat kegilaan Purom untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam kontak tembak, 1 anggota TNI mengalami terluka, sementara Purom kehilangan 5 pengikutnya yang tewas tertembak,” ujar Dax.

Tiga hari berselang, pada 4 Agustus, mereka kembali menyerang konvoi personel Brimob Polda Papua yang mengawal Sekda Kabupaten Lanny Jaya di Distrik Wiringgambut. Dalam kejadian ini, satu anggota Brimob mengalami luka terkena rekoset peluru.

Tahun 2015

Kelompok ini diketahui juga terlibat penyerangan terhadap pekerja CV Nirwana yang sedang mengerjakan proyek pelebaran jalan Trans Papua Wamena-Tiom. Giku Murib dan Markus, mengalami luka tembak ketika mobil yang mereka tumpangi diberondong tembakan.

Dalam penyerangan di Kampung Popome, Distrik Mokoni, KKSB juga membakar ekskavator milik CV Nirwana.

Tahun 2016

Pada 22 Agustus 2016, pengikut Purom kembali menyerang warga sipil di Distrik Melagineri. Simon (36), karyawan PT Asjaya tewas dengan luka tembak di kepala dan dada kanan.

Tahun 2017

Pada 1 Mei 2017, mereka menembak Bripka Awaludin di Pasar Tiom. Akibat penyerangan tersebut, Bripka Awaludin mengalami luka parah di kepala.

(Baca Juga: Polres Lanny Jaya Kejar Pelaku Penembakan Tukang Ojek di Kampung Popome)

Pada awal Desember 2017, mereka kembali berusaha menunjukkan eksistensinya dengan memberondong tembakan kearah Mapolres Lanny Jaya, saat anggota Polres sedang melakukan apel pagi. Tidak ada korban jiwa dalam penyerangan dari arah ketinggian tersebut, namun sejumlah kaca Mapolres pecah terkena tembakan.

“Disini Purom ingin menunjukkan eksistensinya, tidak kalah dengan KKSB pimpinan Ayuk Waker yang melakukan penyanderaan warga di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika,” kata Dax.

Tahun 2018

Pada 23 Mei 2018, KKSB pimpinan Purom Wenda menyerang pegawai Pemda Lanny Jaya yang melakukan distribusi bantuan dana sosial bagi warga di Distrik Balingga. Tidak ada korban jiwa dalam penyerangan tersebut, karena aparat langsung melakukan pengejaran.

Pada 13 Agustus 2018, Purom Wenda dan pengikutnya berusaha membuat kekacauan di distrik-distrik di Lanny Jaya menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-73. Upaya untuk meresahkan warga di Kampung Kidoni, Distrik Milimbo, akhirnya digagalkan Satgas Pamrahwan dari Batalyon 756/WMS.

Delapan pengikut Purom berikut 2 pucuk senjata laras panjang diamankan Satgas Pamrahwan dalam operasi senyap.

Pada 17 Agustus 2018, KKSB ini melakukan teror penembakan di sekitar lokasi upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di Tiom. Aksi KKSB itu sempat membuat ketakutan warga di Tiom.

Pada 2 November, Purom bersama pengikutnya menembak mati pengemudi ojek bernama Yanuar (42) di Kampung Popome. Dalam kejadian itu, KKSB menjadi jenazah sebagai umpan memancing kedatangan aparat.

Rombongan Kapolres Lanny Jaya AKBP Tonny Ananda yang hendak melakukan evakuasi jenazah diberondong tembakan oleh KKSB. Terjadi kontak tembak antara Satgas Penegakan Hukum TNI-Polri dengan KKSB yang mengakibatkan 2 anggota KKSB tewas tertembak.

(Baca Juga: KKSB Kembali Serang Pengemudi Ojek di Lanny Jaya)

Yang terbaru pada Senin (12/11/2018) kemarin, seorang anggota Purom Wenda nyaris membunuh pengemudi ojek bernama Aldi (23). Setelah berpura-pura menjadi penumpang ojek, saat sampai ditujuan anggota KKSB melepaskan tembakan ke arah pengemudi ojek. Beruntung dalam kejadian tersebut, Aldi berhasil mengelak, lalu berpura-pura pingsan dan akhirnya ditinggalkan oleh pelaku.

Dari catatan panjang tindak kriminal yang dilakukan Purom, kata Dax, menunjukkan perilaku yang tidak berperikemanusiaan dan menjadi momok menakutkan bagi warga di Lanny Jaya. Demi eksistensinya, ia bahkan nekat mengorbankan anak buahnya.

“Dengan perbuatannya itu, sudah selayaknya Purom ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Bila tak mau menyerah, maka sampai kapanpun aparat akan terus mengejarnya. Kalaupun ia bisa menghindar dari pengadilan manusia, tapi ia tak bisa menghindar dari pengadilan Tuhan yang Maha Adil,” kata Dax menegaskan. (Ong)