Connect with us

Tanah Papua

Kodam Cenderawasih Tantang Juru Bicara TPN-OPM Buktikan Tuduhannya

Published

on

TIMIKA, Kabartanahpapua.com – Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mensinyalir kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) melarikan diri ke Kampung Arwanop setelah berhasil dipukul mundur oleh pasukan TNI dari Kampung Banti dan Opitawak, Distrik Tembagapura.

Menurut Aidi, pascakontak tembak yang terjadi dua hari terakhir TNI berhasil menguasai 3 kampung yang bersebelahan langsung dengan Kota Tembagapura yakni Kampung Banti, Banti 2 dan Kampung Opitawak. “Anggota KKSB diperkirakan sudah menguasai Kampung Arwanop. Kampung itu bisa dicapai dengan berjalan kaki selama dua hari dari Kampung Banti,” kata Aidi di Koramil Kota Timika, Kabupaten Mimika, Kamis (5/4/2018).

(Baca Juga: Kontak Tembak dengan TNI, Satu Anggota KKSB Tewas di Kampung Opitawak)

Pada kesempatan itu, Aidi mengklarifikasi tudingan juru bicara TPN-OPM Kodam III Kali Kopi Hendrikus Uwamang yang menuduh TNI telah melakukan pembakaran belasan rumah milik warga di Kampung Banti dan sekitarnya. Aidi mengatakan tuduhan TPN-OPM itu tidak benar karena faktanya justru mereka yang membakar bangunan Rumah Sakit Banti dan bangunan SD serta SMP Banti serta sejumlah rumah warga pada 24 Maret lalu.

“Ada 17 rumah warga yang dibakar, termasuk rumah orang tua Bupati Mimika Eltinus Omaleng sebelum TNI sampai di TKP. Dan saat TNI menguasai Kampung Banti dan sekitarnya, warga justru berlari ke arah pasukan TNI dan mengibarkan bendera merah putih yang menunjukkan mereka warga NKRI,” kata Aidi.

Sejumlah rumah dibakar oleh anggota KKSB di Kampung Banti 2, Distrik Tembagapura. (ist)

Ia juga membantah bahwa pasukan TNI menggunakan senjata roket dalam kontak tembak dengan anggota KKSB. Menurutnya pasukan yang dipimpin Komandan Brigif 20 Ima Jaya Keramo (IJK) Kolonel Inf Frits Pelamonia hanya menggunakan senjata laras panjang organik jenis SS1.

“Kami hanya menggunakan senjata laras panjang organik. Tidak ada bayi yang dibakar, namun justru pasukan TNI yang menemukan bayi di honai yang hendak dibakar anggota KKSB. Bayi itu sudah kami serahkan kepada Kepala Kampung Banti Yohanis Jamang,” kata Aidi.

Mantan Dandim Jayawijaya ini juga membantah tudingan bahwa Pemerintah dan TNI-Polri telah merusak akses transportasi dan komunikasi. Pasalnya, kata Aidi, justru anggota KKSB yang memutus jalan Tembagapura – Banti di Utikini Lama saat terjadi penyanderaan warga pada November 2017 lalu.

“Justru mereka yang memaksa operator ekskavator menggali jalan dan selanjutnya mereka membakar alat berat itu,” kata Aidi.

Dalam rilisnya TPN-OPM disebut bahwa seribuan warga mengungsi ke hutan, namun faktanya kata Aidi, laporan dari kepala kampung bahwa warga asli yang tinggal di Kampung Banti, Banti 2 dan Opitawak masih mendiami kampung mereka.

“Dari laporan kepala kampung di Kampung Banti, Banti 2 dan Opitawak ada 1.059 warga. Warga Kampung Banti dan Opitawak yang berkumpul di area pertanian berjumlah 594 orang, sementara di Kimbeli, Kampung Banti 2 ada sekitar 465 orang. Kami juga memperoleh informasi ada 75 warga yang rumahnya dibakar KKSB sudah mengungsi ke Kampung Arwanop,” kata Aidi.

Pemda Mimika segera salurkan bantuan sembako

Menurut Aidi, sejak penyanderaan November lalu aktivitas ekonomi warga lumpuh dan menggantungkan pasokan sembako dengan berbelanja ke Tembagapura. Berdasarkan laporan yang kami terima, kata Aidi, Bupati Mimika sudah memerintahkan untuk segera menyerahkan bantuan sembako.

“Saat anggota TNI sampai di kampung, justru mereka yang membagikan perbekalan mereka kepada warga. Tetapi syukur hari ini Pemda akan menyalurkan bahan makanan kepada masyarakat di kampung,” kata Aidi.

(Baca Juga: Kontak Tembak dengan TPN-OPM, Anggota Yonif 751 Raider Tewas di Tembagapura)

Aidi juga membantah tuduhan bahwa ada warga sipil yang menjadi korban kontak tembak. Menurutnya anggota KKSB yang terlibat kontak tembak terpisah dengan warga sipil.

“Untuk korban meninggal dunia atau luka-luka saat kontak tembak karena mereka berada di posisi anggota KKSB yang terpisah dengan warga. Kami tidak tahu apakah mereka anggota KKSB atau warga sipil yang dijadikan tameng oleh anggota KKSB,” ujar Aidi.

Dua pucuk senjata laras panjang M16 yang ditinggal anggota KKSB pascakontak tembak di Kampung Opitawak, Rabu (4/4/2018) kemarin. (ist)

Aidi menantang Hendrikus Uwamang untuk membuktikan tuduhannya dan memberi jaminan keamanan untuk bersama-sama datang ke Kampung Banti dan sekitarnya.

“Saya mengundang Bapak Hendrikus untuk bersama-sama menuju TKP dan saya akan menjamin keamanannya. Kita juga mengundang media, siapa yang berkata benar dan siapa yang berkata bohong dan kita bisa menginvestigasi bersama,” kata Aidi menantang.

Kepentingan segelintir orang

Aidi menuding permasalahan yang terjadi di Tembagapura bukan karena kehadiran PT Freeport Indonesia, tapi ulah segelintir orang yang mengangkat senjata secara ilegal. “Karena ego segelintir orang yang menamakan diri TPN-OPM mengakibatkan pembangunan terhambat, masyarakat tersakiti dan hak-hak masyarakat dirampas,” kata Aidi.

Alat berat yang dibakar anggota KKSB di Tembagapura. (ist)

Menurutnya, ke depan TNI-Polri akan membangun pos keamanan untuk mengamankan kampung-kampung tersebut. Selain itu, TNI berencana menggelar TMMD dan melakukan operasi bhakti mengembalikan pelayanan pendidikan serta kesehatan di daerah itu.

Ia mengimbau anggota KKSB untuk meninggalkan kegiatan mereka dan secara sadar mau bergabung kembali dengan NKRI. “Hakekatnya kita semua bersaudara, bukan musuh. Mari kita bersama bahu membahu membangun bangsa dan negara dalam bingkai NKRI. Akibat konflik ini ratusan anak-anak terpaksa putus sekolah,” kata Aidi.

(Baca Juga: Kapolda Papua Akui Sejumlah Kampung di Tembagapura Masih Dikuasai KKSB)

Aparat TNI-Polri akan menjamin keamanan anggota KKSB apabila mereka yang ingin menyerahkan diri menyatakan kesetiaan kepada NKRI dan menyerahkan senjata secara baik-baik. Namun, jika mereka tetap mempertahankan egonya dengan melaksanakan perlawanan terhadap negara yang sah dan berdaulat maka aparat keamanan akan menindak tegas.

“Mari bersama-sama hidup berdampingan, bergandengan tangan membangun bangsa dan negara, memajukan generasi muda untuk membangun negeri menyongsong masa depan lebih cerah,” Imbau Kapendam. (Rex)

Komentar