TIMIKA,KTP.com – Kepolisian Daerah (Polda) Papua Tengah menggelar latihan penanganan massa dalam Simulasi Sistem Pengamanan Kota (Sispamkota) di lapangan Mako Brimob Batalyon B Pelopor Sat Brimob Polda Papua Tengah di Jalan Agimuga, Mile 32, Rabu (12/8/2026).
Latihan terpadu ini digelar untuk menguji ketangkasan dan pembuktian kesiapsiagaan aparat dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua Tengah, secara khusus di Mimika.
Sejumlah skenario eskalasi unjuk rasa diperagakan secara presisi. Dimulai dari tahap “hijau” melalui pendekatan persuasif Tim Negosiator dan Dalmas Awal, situasi berlanjut ke tahap “kuning” bersama Dalmas Lanjutan, hingga memuncak pada tahap “merah” saat Kompi PHH Brimob serta Detasemen 45 Anti Anarkis diterjunkan.
Rangkaian simulasi tersebut ditutup dengan manuver tajam Pasukan Anti Teror dan aksi mendebarkan dari Tim Penjinak Bom (Jibom) Brimob.
Latihan ini menjadi salah satu agenda utama dalam Evaluasi Gelar Operasional Triwulan I Polda Papua Tengah.
Kapolres Mimika, AKBP Alredo Agustinus Rumbiak, menegaskan bahwa kesiapannya tidak bergantung pada ada atau tidaknya ancaman yang tampak di permukaan.
“Ini sebenarnya juga dalam rangka rangkaian kegiatan Evaluasi Gelar Operasional Triwulan I Polda Papua Tengah. Kebetulan dilaksanakannya di sini, sehingga kita juga menunjukkan kesiap-siagaan kita dalam rangka pengamanan sistem pengamanan kota,” ujar Alredo.
Saat ditanya mengenai potensi konflik lokal di Mimika, Alredo menekankan bahwa latihan taktis merupakan bagian dari rutinitas kepolisian, bukan sekadar respons spontan saat kerusuhan telah memercik.
(Baca Juga:Polisi Tangkap Pelajar 14 Tahun Terkait Sindikat Curanmor di Mimika)
“Latihan yang dilakukan itu bukan cuma dalam rangka kalau ada mau demo atau tidak, tapi ini untuk menunjukkan kita ini selalu siap. Situasi damai, situasi tidak baik pun, kita harus selalu siap. Sehingga latihan ini tetap harus dilakukan dengan berjangka. Jadi bukan karena mau ngadapin ada situasi masalah dulu, kita baru latihan untuk mensimulasikan kalau masalah itu terjadi, tidak. Tapi ini memang latihan yang memang dilakukan untuk menunjukkan kesiap-siagaan kita dalam setiap waktu,” kata Alredo.
Sistem Pengamanan Kota dirancang sebagai prosedur standar Polri untuk menjamin stabilitas wilayah, melindungi keselamatan jiwa dan harta benda, serta memastikan kebebasan menyampaikan pendapat tetap berada dalam koridor hukum dan pemenuhan hak asasi manusia.
Latihan ini memadukan tiga pilar kekuatan utama, yakni Polres Mimika, Batalyon B Sat Brimob Polda Papua Tengah, serta Pasukan III Korbrimob Polri.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, menilai keterpaduan antar-satuan menjadi cermin dari standar operasional prosedur yang akan terus diasah menghadapi dinamika sosial di Papua.
“Jadi, hari ini rekan-rekan menyaksikan bagaimana latihan terpadu kita dengan Brimob. Dari Polres Mimika dengan Brimob, di sini Brimob itu ada dua satuan: Organik Yon B yang berada di bawah Sat Brimob Polda Papua Tengah, dan Pas III Brimob yang berada di bawah Korps Brimob. Jadi di sini ada dua satuan Brimob,” tutur Jermias.
Jermias menambahkan, setiap tindakan penanganan di lapangan akan selalu diselaraskan secara fleksibel dengan kearifan lokal serta realitas sosial masyarakat setempat.
“Terlihat dari keterpaduan latihan ini, Teman-teman bisa lihat. Seperti inilah mekanisme kita penanganan unjuk rasa yang beraksi… berakhir ricuh, sesuai SOP yang kami miliki. Tahapan-tahapannya tadi Rekan-rekan sudah lihat, terakhir dengan penembakan. Tadi ada yang kaget enggak? Kalau ada yang kaget berarti besok jangan hidup di lingkungan militer,” selorohnya.
Melalui olah taktis terpadu ini, kepolisian berupaya memastikan bahwa ketertiban umum di Mimika tidak berdiri di atas kerentanan, melainkan ditopang oleh kesiapan personel yang terukur dan terencana.(MWW)






