BMKG Imbau Masyarakat Waspada Dampak Pergeseran Musim

Nasional40 Dilihat

JAKARTA, Kabartanahpapua.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk waspada dan berhati-hati terhadap potensi kekeringan seiring datangnya musim kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan hasil monitoring BMKG menunjukkan 35 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan 65 persen wilayah masih mengalami musim hujan.

“Wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi pesisir utara dan timur Aceh, Sumatera Utara bagian utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan,” ujar Herizal dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (25/6/2019).

Dari hasil pemantauan curah hujan hingga 20 Juni 2019, kata Herizal, telah terjadi hari tanpa hujan berturutan pada beberapa wilayah yang berdampak pada potensi kekeringan meteorologis (iklim). BMKG telah membagi status potensi kekeringan ini menjadi dua, yaitu berstatus awas dan status siaga.

Status awas adalah daerah yang telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari 61 hari dengan prospek peluang curah hujan rendah. Daerah yang berstatus awas, yakni sebagian besar Yogyakarta, wilayah Sampang dan Malang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah Indramayu di Jawa Barat, dan wilayah Buleleng di Bali.

Sementara daerah yang berstatus siaga, yakni daerah yang telah mengalami hari tanpa hujan secara berturutan lebih dari 31 hari dan prospek peluang curah hujan rendah. Daerah yang berstatus siaga ini, yakni Jakarta Utara, wilayah Lebak dan Tangerang di Provinsi Banten, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sebagian besar Jawa Tengah.

“Kepada masyarakat yang berada di wilayah yang berstatus awas dan siaga untuk waspada dan berhati-hati dengan dampak kekeringan terhadap pertanian yang masih memakai sistem tadah hujan, kemungkinan terjadinya kelangkaan air bersih akibat berkurangnya ketersediaan air tanah, dan peningkatan potensi terjadinya kebakaran,” kata Herizal.

Potensi Curah Hujan Tinggi

Musim kemarau yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia, kata dia, tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. “Beberapa daerah diprediksi masih berpeluang mendapatkan curah hujan dengan prospek akumulasi curah hujan 10 harian ke depan pada kategori rendah atau lebih kecil dari 50 milimeter (mm),” paparnya.

Meski demikian, beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah dan tinggi. Potensi curah hujan kriteria menengah pada rentang 50 – 150 mm dalam 10 hari ke depan diprakirakan terjadi di pesisir Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, Jambi bagian barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Papua Barat bagian utara dan Papua bagian utara.

“Untuk curah hujan kriteria tinggi dengan potensi lebih dari 150 mm dalam 10 hari diprakirakan dapat terjadi di pesisir timur Sulawesi Tengah dan Papua bagian tengah,” ungkap Herizal.

Pergeseran musim dan perbedaan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, kata dia, dipengaruhi oleh kejadian anomali iklim global di Samudera Pasifik yang menunjukkan kondisi El Nino lemah. Selain itu, Anomali Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) di wilayah Samudera Hindia yang menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

“Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga Oktober, November, dan Desember 2019,” pungkas Herizal. (Fox)