Respons Pemerintah dan Aparat Keamanan Pasca Rentetan Peristiwa di Distrik Jila Mimika

TIMIKA,KTP.com – Pemerintah Kabupaten Mimika bersama jajaran aparat keamanan TNI dan Polri bergerak cepat merespons rentetan aksi kejahatan dan gangguan keamanan yang melanda kawasan Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada Senin, 17 Agustus 2026 lalu.

Selain memperkuat pengamanan dan menerjunkan tim investigasi, pemerintah daerah dan jajaran aparat fokus menangani persoalan kemanusiaan, mulai dari pencarian 9 warga yang disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) hingga pendistribusian bahan pangan bagi warga terdampak.

Kapolres Mimika, AKBP Alredo Agustinus Rumbiak, menyatakan bahwa aparat gabungan telah menerjunkan personil tambahan untuk memperkuat pengamanan sekaligus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dari 20 personel yang direncanakan, sebanyak 16 personel telah diberangkatkan ke lokasi, sementara empat sisanya menyusul.

“Terdiri dari 10 personel Brimob dan 10 personel tim investigasi serta olah TKP. Situasi di Distrik Jila saat ini relatif kondusif dan landai, namun kami tetap berwaspada penuh untuk mengantisipasi potensi serangan susulan,” ujar Alredo dalam konferensi pers di kediaman Bupati Mimika, Kamis sore (20/8/2026).

Mengenai status sembilan warga yang dilaporkan hilang, Alredo menjelaskan bahwa kepolisian belum dapat mengkategorikannya sebagai kasus penyanderaan murni. Pasalnya, hingga kini belum ada tuntutan yang disampaikan oleh kelompok pelaku.

“Kalau penyanderaan, biasanya ada tuntutan tertentu. Namun, dalam kasus ini belum ada tuntutan yang masuk. Ini dikategorikan sebagai aksi pembawaan paksa atau penculikan. Tim investigasi dan olah TKP saat ini sedang melengkapi keterangan saksi dan melakukan profiling terhadap para pelaku,” kata Alredo.

Meskipun identitas kelompok pelaku belum dapat dipastikan secara mendetail, kepolisian menduga aksi ini merupakan bagian dari rangkaian kejahatan teror keamanan yang sempat menyasar Pos 133 di wilayah tersebut.

Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf. Teuku Jozanda, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerjunkan satu tim prajurit untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku penculikan.

Berdasarkan pendataan awal di lapangan serta koordinasi bersama Koramil dan Polsek Jila, terungkap adanya aksi kekerasan keji yang menimpa warga sipil.

“Ada sembilan korban yang dibawa paksa. Selain itu, dua orang ibu-ibu menjadi korban kekerasan; satu orang meninggal dunia akibat tertembak, dan satu lainnya mengalami penganiayaan hingga mengalami patah tulang sebelum dibuang ke jurang oleh pelaku,” ungkap Teuku Jozanda.

Korban ditembak saat berusaha menghalangi kelompok bersenjata tersebut membawa anak-anak mereka.

(Baca Juga: Berikut Identitas 9 Korbang Yang Disandera KKB di Distrik Jila)

Teuku menegaskan, tindakan membawa paksa anak-anak serta menganiaya warga sipil merupakan perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Pihaknya bersama jajaran Polri bertekad memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat di Distrik Jila.

“Kami hadir untuk masyarakat. Kami memohon doa agar prajurit TNI-Polri diberikan keselamatan dalam menjalankan tugas pengejaran dan anak-anak yang dibawa paksa dapat segera kembali ke keluarga mereka dengan selamat,” tambahnya.

Rentetan peristiwa keamanan ini berdampak langsung pada kelumpuhan aktivitas warga dan pasokan kebutuhan pokok di Distrik Jila.

Masyarakat yang semula berkumpul di pusat distrik untuk memperingati HUT ke-79 RI kini tidak dapat kembali ke kampung halaman maupun mengolah kebun mereka karena alasan keselamatan.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengungkapkan bahwa dua maskapai penerbangan komersial yang mengoperasikan rute ke Jila yakni Bunga Persada Air dan Asian One Air telah bersurat secara resmi untuk menghentikan operasional sementara hingga situasi keamanan benar-benar pulih.

Kondisi ini membuat aksesibilitas transportasi udara, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan roda pemerintahan di Distrik Jila terhenti sementara.

Untuk mengatasi ancaman krisis pangan warga, Pemerintah Kabupaten Mimika bekerja sama dengan TNI dan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III menyalurkan bantuan logistik darurat menggunakan helikopter.

“Kami menyiapkan sekitar 3 ton beras beserta bahan makanan dan peralatan memasak. Karena warga saat ini berkumpul di distrik dan tidak bisa berkebun, kami dorong bantuan logistik ini secara bertahap menggunakan dukungan helikopter TNI hingga kebutuhan mereka terpenuhi,” jelas Johannes.

Johannes juga mengimbau kelompok pelaku untuk segera melepaskan anak-anak yang dibawa paksa tanpa syarat, mengingat mereka memiliki masa depan yang panjang untuk membangun daerahnya.

Menanggapi maraknya spekulasi dan isu yang berkembang di masyarakat, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, meminta warga khususnya yang berada di Kota Timika untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dipolitisasi.

“Kami harap masyarakat percaya penuh kepada penanganan yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan TNI. Mari kita jaga Tanah Papua agar tetap aman dan damai, serta berdoa agar anak-anak kita yang dibawa paksa dapat segera dikembalikan ke orang tua mereka,” tutur Emanuel.

Pemerintah Daerah Mimika memastikan fokus utama saat ini adalah memulihkan stabilitas keamanan, membuka kembali aksesibilitas pelayanan publik, serta menjamin keselamatan warga Distrik Jila.(MWW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *