Kepala Staf Kepresidenan dan Menteri Yohana Satukan Tekad untuk ‘Three Ends’

Nasional35 Dilihat

JAKARTA, Kabartanahpapua.com – Perempuan Indonesia adalah aset penting yang perlu diberdayakan, diperhatikan, dan dilindungi penuh oleh negara. Hal ini disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise saat bertemu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Kantor Staf Presiden, Selasa (3/4/2018) lalu.

Dalam pertemuan sekitar satu jam itu, kedua pihak berbicara serius membahas isu-isu penting mengenai perempuan dan anak, berikut program-program yang telah dicanangkan oleh Kementerian PPPA sejak 2016.

Menurut Yohana, isu-isu mengenai perempuan dan anak yang selama ini muncul di permukaan ibarat fenomena gunung es, setelah makin banyaknya laporan kasus yang melibatkan perempuan dan anak sebagai korban.

“Namun, harus dilihat juga peningkatan laporan mengenai kasus-kasus ini dapat diartikan bahwa telah lahir kesadaran masyarakat yang semakin kritis terhadap isu perempuan dan anak di Indonesia,” kata Yohana.

(Baca Juga: Mama-Mama Papua Tunjukkan Kontribusi Perempuan Membangun Negara)

Guru Besar Universitas Cenderawasih ini memaparkan, isu-isu yang menjadi perhatian Kementerian PPPA mencakup penguatan kemandirian ekonomi perempuan, pemberdayaan dan pembangunan gender, serta partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Banyak tantangan dalam menjalankan hal-hal itu, termasuk belum efektifnya strategi pemberdayaan gender dan hak anak ke dalam berbagai bidang pembangunan,” kata Yohana.

Pada pertemuan itu, Yohana dan Moeldoko fokus membahas tiga program Kementerian PPPA yang menjadi bagian dari program prioritas, yang dikenal dengan ‘Three Ends’yakni End Violence Against Women and Children (Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak); End Human Trafficking (Akhiri Perdagangan Manusia), dan End Barriers To Economic Justice (Akhiri Kesenjangan Ekonomi terhadap perempuan).

“Ketiga program ini merupakan program prioritas KPPPA yang telah dilaksanakan secara besar-besaran di provinsi-provinsi Indonesia dan disosialisasikan melalui berbagai bentuk agar mudah diterima masyarakat. Misalnya dengan dialog musik,” kata Yohana.

Pemilik gelar Ph.D dari Newcastle University Australia ini menekankan bahwa bentuk perhatian dan perlindungan pada perempuan oleh Negara sangat penting dalam menunjukkan potensi dan peran perempuan dalam membangun Negara Indonesia.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memberikan respon positif dalam kinerja Kementerian PPPA. “Kami sepakat untuk berkoordinasi dalam rencana-rencana kedepannya dan akan terus mengembangkan komitmen di antara kedua pihak, agar masyarakat semakin tahu apa yang telah pemerintah lakukan,” kata Moeldoko.

Pada kesempatan itu, Menteri Yohana memberikan buku biografinya berjudul ‘Mutiara dari Timur’ sebagai kisah hidup seorang profesor dan menteri perempuan pertama dari Papua kepada Kepala Staf Kepresidenan. (Ong)