Connect with us

Tanah Papua

Evakuasi Pertama Warga Distrik Tembagapura Tiba di Timika

Published

on

TIMIKA, Kabartanahpapua.com – Sebanyak 258 warga distrik Tembagapura yang dievakuasi pada gelombang pertama tiba di Timika pada Jumat (06/03/2020) sore sekitar pukul 16.30 WIT

Warga yang didominasi oleh perempuan dan anak-anak ini menggunakan tiga unit bus milik PT Freeport Indonesia dan diturunkan di Kavaleri III Serigala Ceta, Jalan Agimuga Distrik Kuala Kencana untuk dilakukan pendaftaran.

Warga yang dievakuasi berasal dari empat kampung di distrik Tembagapura yaitu Kimbeli, Opitawak, Banti 2 dan Banti 1.

Usai didata oleh pegawai Disdukcapil Mimika, warga kemudian diantar ke kediaman keluarga mereka masing seperti di SP3, Kwamki Narama, SP12, dan beberapa tempat lain.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Sihol Parlingotan mengatakan evakuasi dilakukan atas permintaan warga sendiri.

“Sesuai data awal memang masyarakat yang minta dievakuasi,” kata Sihol.

Sihol menambahkan, kurang lebih 600-an warga yang akan dievakuasi ke Timika. Namun Sihol mengatakan informasi lengkap akan disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Mimika Johanis Rettob.
“Jelasnya pak wakil yang punya kompeten karena informasi melalui satu pintu. Nanti wawancara sama pak Wakil Bupati saja. Kita tadi rapat, sudah sepakat satu pintu informasinya,” ujarnya.

Sementara itu, Dandim 1710/Mimika Letkol Infanteri Pio L Nainggolan mengatakan situasi terkini pasca evakuasi warga di distrik Tembagapura masih kondusif. Proses operasional PT Freeport kata Dandim tetap berjalan.

“Kontak tembak masih berlanjut tetapi intensitasnya sudah mulai menurun jauh,” ungkap Dandim.

Dandim membenarkan alasan evakuasi karena warga ketakutan terhadap gangguan keselamatan mereka akibat kehadiran Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dari luar Timika ke Timika.

“Proses evakuasi tidak ada gangguan semuanya sudah diurus oleh rekan-rekan kita TNI dan Polri yang ada di atas, dan selanjutnya kami terima di Timika dan kami antar ke tempat tinggal keluarga mereka masing-masing. Tidak ada penampungan, jadi ini buka pengungsian tetapi hanya proses evakuasi,” ujarnya.

Sementara itu Adrianus Magal Sekretaris Kampung Banti 2 mengatakan warga yang ikut dievakuasi merasa tidak nyaman dengan kehadiran KKSB. Warga kata Adrianus masih trauma dengan kejadian serupa pada 2017 lalu. (Lobo)

Komentar
Continue Reading
Advertisement