TIMIKA,KTP.com – Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, terus memacu pembangunan infrastruktur sektor kelautan guna memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
Pada tahun anggaran 2026, sebanyak delapan kampung di wilayah pesisir Mimika disiapkan untuk masuk dalam program strategis nasional Kampung Nelayan Merah Putih yang didanai oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, Clemens Ohoilulin, menyampaikan bahwa skema pembangunan tersebut dibagi menjadi dua kategori, yakni tipe hub (pusat sentral) dan tipe penyangga (buffer).
“Jadi untuk di Kampung Nelayan Merah Putih ini, ini kan terdiri dari dua. Yang pertama untuk hub, ya. Heeh. Jadi hub itu nya dia pusatnya, ya. Dia membawahi beberapa Kampung Nelayan Merah Putih. Jadi dari beberapa Kampung Nelayan Merah Putih yang merupakan penyangga ini, nanti hasilnya mereka akan mengantar atau menampung di Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Clemens, Senin (17/8/2026).
Pembangunan program nasional ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama difokuskan pada satu lokasi, yaitu Kampung Kiyura di Distrik Mimika Barat—yang dialihkan dari lokasi awal di Kampung Atapo akibat kendala teknis.
Sementara itu, tahap kedua mencakup tujuh kampung lainnya: Poumako, Atuka, Mapuruka, Pronggo, Ipiri, Amar, dan Potowaiburu.
Dari total delapan lokasi tersebut, tiga kampung ditunjuk sebagai pusat penampungan (hub), yaitu Poumako, Ipiri, dan Potowai Buru. Sementara lima lokasi lainnya berfungsi sebagai kampung penyangga.
“Potowai Buru dia membawahi… Pronggo dengan Mapuruka. Sedangkan Ipiri ya dengan Amar,” kata Clemens menjelaskan pembagian wilayah interkoneksi nelayan tersebut.
(Baca Juga: Dinas Perikanan Mimika Alokasikan Rp500 Juta untuk Budidaya Kepiting Bakau)
Terkait progres pengerjaan di lapangan, pihak Dinas Perikanan masih menunggu laporan teknis dari pelaksana proyek.
Meski demikian, aktivitas awal seperti pembersihan lahan dan penyediaan bahan bangunan di kawasan perkotaan sudah berjalan.
“Jadi tahap pertama ini mereka lagi apa namanya, pembersihan lahan, terus ada material yang disiapkan di kota. Mengingat karena jaraknya jauh, sehingga semua material disiapkan di kota. Ya mudah-mudahan di akhir Agustus ini pasti kontraktor-kontraktor sudah semua menuju ke lokasi untuk membangun,” tutur Clemens.
Secara teknis, setiap titik Kampung Nelayan Merah Putih akan dilengkapi fasilitas modern yang disesuaikan dengan tipenya:
Tipe Penyamuderaan/Penyangga: Dilengkapi tambatan perahu, shelter pendaratan ikan, gudang es portabel kapasitas 3 ton, kios perbekalan dan sentra kuliner, gedung genset, akses jalan deck-on-pile, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biotek, menara air, sumur bor, hingga lampu penerangan kawasan.
Tipe Central/Hub: Memiliki fasilitas yang lebih kompleks, meliputi gudang beku (cold storage) portabel 20 ton, pabrik es portabel 3 ton, fasilitas docking (galangan) perahu dan bengkel, kantor pengelola, serta pusat kuliner dan perbekalan.
Selain mengandalkan program strategis dari pemerintah pusat, Dinas Perikanan Kabupaten Mimika juga mengucurkan dana APBD sebesar kurang lebih Rp700 juta untuk membangun Sentra Perikanan mandiri di wilayah Atakar.
“Untuk Sentra Perikanan kurang lebih 700 juta… Ya, semi permanen,” kata Clemens.
Langkah ini diambil untuk menampung seluruh jenis dan ukuran hasil tangkapan nelayan lokal tanpa pembatasan, berbeda dengan pengumpul swasta yang kerap bersikap selektif.
Bangunan semipermanen tersebut nantinya akan dilengkapi dengan alat pembeku khusus dan pabrik es portabel guna menjaga kualitas mutu hasil laut sebelum disalurkan ke pasar nasional.(MWW)

99





