WAMENA, Kabartanahpapua.com – Komandan Kodim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto menyebut ada pihak-pihak yang berusaha memojokkan aparat TNI-Polri melalui kegiatan sekolah darurat yang diadakan di Gereja Weneroma, Kabupaten Jayawijaya.
Dari pemberitaan yang beredar, mereka menyebut bahwa banyak keluarga yang mengungsi dan anak-anak terlantar tidak bisa sekolah akibat kehadiran aparat TNI-Polri di Kabupaten Nduga.
“Kelompok ini ingin menggoreng isu Nduga untuk mendapat perhatian dunia internasional dengan membolak-balik fakta,” kata Candra melalui telepon selulernya, Kamis (14/2/2019).
(Baca Juga: KKSB, Hoaks, dan Isu HAM)
Ia membenarkan ada warga asal Kabupaten Nduga yang mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya pasca pembantaian pekerja PT Istaka Karya yang dilakukan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pimpinan Egianus Kogoya di Distrik (kecamatan) Yigi, 2 Desember lalu.
Para pengungsi tersebut, kata dia, tinggal di rumah sanak saudara mereka yang berasal dari Nduga di Kampung Sinakma dan Elekma di Kabupaten Jayawijaya.
“Jadi mereka itu mengungsi ke rumah kerabat mereka di perkampungan Nduga di Sinakma dan Elekma. Para pengungsi ini mengaku meninggalkan kampung untuk menghindari KKSB,” ujar Candra.
Mengenai ratusan siswa yang diberitakan terlantar karena tidak ada aktivitas sekolah di Nduga, kata Candra, bukan akibat kehadiran aparat TNI-Polri yang memulihkan keamanan pasca aksi brutal KKSB di Kecamatan Yigi.
Menurutnya, aktivitas belajar mengajar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Nduga sudah lumpuh pasca aksi KKSB yang melakukan penyanderaan dan pemerkosaan terhadap guru di Kecamatan Mapenduma pada Oktober 2018 lalu.
“Aksi brutal KKSB ini berpengaruh kepada seluruh guru yang bertugas di Kabupaten Nduga. Mereka secara diam-diam turun ke Wamena untuk mengamankan diri. Sejak kejadian itu, banyak sekolah di kampung-kampung yang tidak melaksanakan aktivitas belajar mengajar,” papar Candra.
“Dari pengakuan mereka yang sempat kami temui, umumnya mengaku terpaksa meninggalkan pekerjaan karena mereka tidak ingin mengalami nasib serupa rekan mereka di Mapenduma,” kata Candra menambahkan.
Sekolah Darurat
Candra mengaku sudah berkoordinasi dengan Bupati Nduga Yairus Gwijangge terkait masalah pengungsi dan anak-anak yang putus sekolah yang kini berada di Kabupaten Jayawijaya. Bupati Nduga, kata Candra, mengaku sudah menemui para pengungsi yang tinggal di Sinakma dan Elekma. Pada saat itu, bupati menganjurkan agar anak-anak melanjutkan sekolah di Wamena.
“Bupati Nduga menyesalkan langkah Kadis Pendidikan Nduga Janes Sampouw yang berkoordinasi dengan Kadis Pendidikan Jayawijaya untuk membuka sekolah darurat di Wamena. Padahal keinginan Bupati, agar anak-anak asal Nduga tersebut dititipkan di sekolah-sekolah yang tersebar di Wamena untuk sementara waktu,” kata Candra.
(Baca Juga: Isu Pendeta Germin Nirigi Dihembuskan untuk Menolak Kehadiran TNI-Polri di Nduga)
Karena miskomunikasi tersebut, Candra menganjurkan kepada Bupati Nduga untuk segera mengambil langkah memfasilitasi anak-anak tersebut mendapat pendidikan yang memadai. Pasalnya, dengan status sekolah darurat ini akan memberikan sentimen negatif yang rawan dipolitisir untuk memberi kesan seolah ada pengungsi yang terlantar.
“Bupati mengaku akan memfasilitasi anak-anak Nduga yang ada di Wamena untuk segera di bawa ke Kenyam, ibukota Nduga. Nantinya, ratusan anak ini akan melanjutkan pendidikan di sana,” kata Candra menjelaskan. (Mas)






