Connect with us

Tanah Papua

Ternyata, Wabah ASF Bisa Mebular Lewat Sampah Sisa Makanan

Published

on

TIMIKA,KTP.com – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Mimika, drh Sabelina Fitriani mengungkapkan, wabah African Swine Feber (ASF) atau Demam Babi Afrika dapat menjangkit babi melalui makanan sisa atau limbah rumah tangga yang dipungut dari tempat sampah.

Seperti diketahui, kasus-kasus seperti ini kerap ditemukan pada hampir setiap tumpukan sampah di dalam pusat kota Kabupaten Mimika, dimana banyak dari para peternak sering mencari makanan babi dari sisa-sisa makanan yang dibuang ke tempat sampah sebagai pengganti pakan lantaran harga pakan yang mahal.

Bukan tidak mungkin jika hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas daging serta kesehatan ternak itu sendiri. Apalagi, makanan yang diambil tentunya tidak sehat untuk dikonsumsi kembali.

“Itu bisa menjadi sumber penularan,” kata Sabelina kepada wartawan, Senin (29/1/2024).

Saat ini, wabah tersebut telah merajalela di Mimika. Bahkan, banyak peternak yang sudah kehilangan babinya akibat terjangkit ASF hingga mati. Hal ini diduga karena sisa makanan limbah rumah tangga yang berasal dari sisa tentengan oleh-oleh produk olahan babi dan dibuang.

Sabelina menyebutkan, virus tersebut kemungkinan ada pada sisa makanan olahan babi yang dibuang kemudian dipungut dan dijadikan sebagai pakan pada babi.

(Baca Juga:Jumlah Babi Mati Akibat Wabah ASF di Mimika Bertambah Menjadi 245 Ekor)

“Kita prediksi ada tentengan-tentengan berupa oleh-oleh produk babi baik dia berupa dendeng, berupa asap, berupa Sei itu dibawa masuk. Sisa dari makanan itu menyebabkan tertular kepada ternak babi,”

“Karena begini,kemudian dendeng dan asap itu belum masak sepenuhnya karena virus itu masih bertahan hidup pada pemanasan 65 derajat. Kemudian di suhu dingin di freezer dia bisa bertahan hingga 1000 hari, kemudian di kotoran ternak itu dia bertahan sampai 160 hari. Jadi dia akan mati kalau pemanasannya udah diatas 100 derajat,” tambahnya.

Sementara itu, berkaitan dengan ini Sabelina menyebutkan, sejak beberapa tahun lalu pemerintah telah menerbitkan regulasi-regulasi larangan pemasukan babi dan berbagai olahannya dari luar Kabupaten Mimika.

Bahkan, kata dia pada tahun 2023 dimana ASF tengah mewabah di Sulawesi, pemerintah juga telah mengeluarkan Instruksi Bupati yang membijaki larangan masuknya babi dan berbagai olahannya dari luar Mimika. Hal ini untuk memutus mata rantai penyebaran ASF.

Sementara itu, Dorkas Linggi, seorang pedagang Babi di Pasar Sentral Timika menjelaskan, sejak wabah tersebut masuk ke Mimika, penjualan babi di pasar tidak seperti hari biasanya.

Jika sebelumnya bisa terjual lebih dari 1 ekor babi, kini hanya terjual 1 ekor dalam satu hari.

Dorkas menyatakan, untuk semua babi yang dijual di Pasar Sentral Timika sebelum disembelih telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan untuk memastikan kelayakan serta kesehatan dari daging babi tersebut.

“Tadi ada dokter dari peternakan yang datang periksa dia (daging babi) punya organ dalam to, dia bilang mama punya masih bagus dan ini saya punya babi kandang sendiri,” terang Dorkas.

“Kita sekarang dilarang ke kandang-kandang karena masalahnya ini virus,” pungkasnya.(MWW)

Komentar
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *